Gunung Mutis, Fatumnasi. Tanah tertinggi Nusa Tenggara Timur

Puncak ke delapan! Yaaa, ini adalah puncak provinsi ku yang ke delapan. Sedikit demi sedikit, aku akan menyelesaikan misi ini, misi untuk mendaki puncak gunung tertinggi setiap provinsi.

Yaa terserah, kalo kalian bilang mustahil. Toh namanya juga mimpi, bebas kan? Lagian, yang penting aku usaha untuk menghidupkan mimpi-mimpi ku. Tuhan pasti lihat usaha ku hehehe.

Lagi-lagi aku mau bilang, gak nyangka banget aku bisa sampai ke gunung ini. Gunung di ujung tenggara negeri megah ini. Berbatasan langsung dengan Timor Leste, lho! Jauh deh pokonya, dan belum banyak juga pendaki yang memijakkan kaki di tanah Mutis. Ketika membaca tulisan-tulisan di Google aja, rasanya mustahil aku bisa sampai ke Gunung Mutis. Entah lah.

Sebelum sampai ke Mutis aku membayangkan, akan betapa asri, sepi, sejuk, dan indahnya gunung Mutis. Tidak seperti gunung-gunung di Pulau Jawa yang entah kapan sepinya. Bahkan, ketika aku sampai ke Kupang, dan bertemu dengan teman-teman asli pulau Timor ini, belum satupun dari mereka yang pernah ke Gunung Mutis, oh kecuali satu teman perempuan, namanya kak Fera. Nah karena kak Fera ini optimisme ku menjadi semakin menjadi untuk datang. Kak Fera aja bisa, kenapa aku nggak? Hehe.

Oh iya, cerita tentang kenapa aku bisa sampai ke Nusa Tenggara Timur, kalian bisa baca ceritanya di tulisan sebelum ini.

Dari total sembilan hari perjalanan di NTT aku sudah mewanti-wanti dari awal, pokoknya aku mau ke Mutis! Destinasi yang lain berubah, atau tidak jadi sekalipun, yaa tidak apa-apa, tapi Mutis, jangan! Pokoknya aku harus kesana, karena aku gak tau kapan lagi bisa menginjakan kaki di Tanah Timor.

Memang agenda perjalanan kami selama di NTT ini berubah total, dari yang awalnya kami hanya ingin mengeksplor pulau Timor, eh malah nyebrang ke Pulau-pulau sekitar, ke Rote sampai ke Sumba. Jadilah beberapa destinasi di Pulau Timor kita korbankan. Tapi sekali lagi, Mutis? JANGAN!

Dua hari awal kita habiskan di Kupang. Jam 11 siang lah sampai di Kupang hari itu, lalu mampir sebentar ke Pantai Lasiana, tak begitu jauh dari pusat kota. Malam-nya aku bertemu dengan teman-teman asli Kupang yang sudah aku ceritakan di tulisan sebelumnya. Disinilah kak Fera, yang sudah pernah kesana bercerita.

Untuk sampai ke Gunung Mutis, kita harus menuju ke Kota Soe terlebih dahulu. Sekitar 3-4 jam dari Kupang. Dari Soe kita harus berganti kendaraan dengan kendaraan 4WD atau double gardan. Kenapa? Karena akses menuju Fatumnasi, yaitu desa terakhir sebelum mendaki Gunung Mutis, masih berbatu-batu dan cukup dalam, juga menanjak. Dari Soe ke Fatumnasi di Kabupaten Timor Tengah Selatan ini menghabiskan waktu 3 jam. Kira-kira begitu informasi yang ku dengar dari kak Fera.

Setelah kembali dari Pulu Rote di hari keempat, kami segera merencanakan perjalanan ke Fatumnasi. Kaks Udex yang mati-matian dari sore hari sudah mencari kan mobil double gardan yang kami butuhkan, tapi sampai tengah malam mobil itu tak kami dapatkan. Akhirnya kami memaksakan diri untuk menggunakan mobil seadanya untuk sampai Fatumnasi. Hanya kijang Inova yang kami dapat malam itu. Tapi yasudah kita coba saja dulu, daripada tidak berangkat sama sekali, kan?

Tengah malam kami baru benar-benar berangkat dari Kupang Menuju Soe, disana rencananya kami berusaha untuk mencari mobil jeep untuk bisa mengantar kami sampai desa Fatumnasi di kaki gunung Mutis. Tapi ternyata memang tidak ada, kabarnya semua mobil di sewa untuk kepentingan kampanye pemilihan kepala daerah. Yasudah, mau bagaimana? Toh jeep seperti itu disini tidak banyak, tidak sebanyak di Kaliurang, Yogyakarta sana.

Tidak putus asa, kamipun melanjutkan perjalanan ke Fatumnasi dengan kijang Inova yang kami bawa dari Kupang. Pasti ada jalan untuk orang yang yakin dan berusaha, kataku dalam hati.

Aku tidak mengambil gambar apapun selama dalam perjalanan, percayalah aku capek sekali, dan aku tidur sepanjang perjalanan. Ini pun aku dibangunkan kak Icon, ketika mereka mencoba mencari informasi penyewaan jeep. Tidak mendapatkan jawaban karena yaa tempat ini super sepi. Oh maksud dari gambar ini hanya plank jalan, menunjukkan arah ke Atambua (kota ujung perbatasan indonesia di pulau Timor dengan negara Timor Leste, dan kita ke Kiri ke arah Kabupaten TTS atau Timor Tengah Selatan. Ini pun bukan foto, tapi video dari instagram stories yang ku capture hahaha.

Dan benar saja, jalan mulai menanjak dan berbatu menuju Fatumnasi, gelap, sepi dan… benar-benar tidak nyaman. Mau tidur-pun mobil terus berguncang. Beberapa kali Kak icon yang duduk di depan harus turun dari mobil, untuk membantu supir mengarahkan arah roda agar tidak tertahan di batu yang besar. Betul, jalan disini belum di aspal, masih tanah dan berbatu, parahnya lagi, terus menanjak.

Akhir setelah dua jam lebih terguncang diatas mobil, kami sampai di Fatumnasi, tepat di depan rumah tetua adat, yang biasa dijadikan pos para pendaki untuk meminta izin kepada tetua adat, Bapak Mateos Anin. Kami sampai sekitar pukul 4 pagi. Masih sangat sepi disini, belum ada aktivitas, dan kamipun menunggu, sampai sekitar 20 menit kemudian baru bapak Anin keluar karena menyadari kehadiran kami.

Disini Pak Anin juga membuat beberapa Lopo (nama rumah adat di Pulau Timor) untuk pengunjung bisa bermalam dan beristirahat.

Ini tampak depan dari rumah Bapak Anin, terdapat seperti pendopo di depan, rumahnya sendiri ada di bagian belakang.

Ini adalah bentuk Lopo yang disewakan untuk pengunjung. Karena Lopo ini baru jadi, Pak Anin mempersilahkan kami untuk mencobanya tanpa harus bayar. Wah baik sekali Pak Anin! Yaa walaupun kita pakai hanya beberapa jam karena harus melanjutkan pendakian. Didalam rasanya sangat nyaman, terdapat tiga kasur lengkap dengan bantal dan selimutnya. Rasanya ingin membatalkan pendakian ketika badan ini bisa merasakan posisi tidur pada mestinya hahahaha. Oh udara di Fatumnasi ini sudah dingin yaaa, beda 1000% dengan di Kupang hahahaha.

Yang aku benci adalah, aku tidak ada foto bersama Pak Anin, karena memang tidak ada waktu. Sebelum naik, aku hanya ngobrol dan bercerita. Pikirku bisa lah nanti pulangnya. Tapi pulangnya-pun tidak bisa. Jangankan foto bersama, turun dari mobil saja aku tidak sanggup. Jadi aku kasih liat dari foto tidak layak ini aja, disebelah kiri tanpa topi itu Pak Anin, sementara yang Kanan adalah Pak Samuel, yang akan mengantar kami ke atas.

Jam 7 pagi tepat, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Mutis. Dari sini kami masih percaya bahwa mobil Inova yang kami bawa dari Kupang masih sanggup melaju, entah sampai sejauh mana, kita coba saja sampai titik mobil ini akhirnya tidak bisa melaju lagi. Sebenarnya Pak Anin mengupayakan untuk mencari ojek motor, tapi tidak ada karena hari itu semua motor di pakai untuk berkebun.

Sulit menjelaskannya lewat tulisan, tapi tenang, aku akan siapkan video perjalanannya nanti. Aku juga membuat rekaman perjalanan luarbiasa ini.

Setelah kurang lebih 45 menit mobil ini seperti mati-matian melaju diantara jalan menanjak berbatu, kami sempat stuck cukup lama ketika mobil tidak mampu melintas diantara sungai kecil.

Kak Hendra yang berusaha mengganjal mobil dengan batu sebagai pijakan agar mobil bisa menanjak.

Begini lah keadaan jalan. Memang sepertinya cuma kami yang menggunakan mobil kota (Inova) untuk sampai kesini, harusnya memang menggunakan mobil double gardan, atau truk.

Warga yang kebetulan lewat untuk berkebun, yang tiba-tiba membantu kami menyusun batu, tanpa bertanya butuh bantuan atau tidak, tanpa bertanya dari mana dan mau ke mana kami, dan tanpa pamrih. Aku terharu!! Toleransi ini sungguh nyata, aku jatuh cinta pada kebaikan saudara ku disini! 😢

Setelah 20 menit menyusun batu, akhirnya mobil kita bisa kembali melintas, dan para saudara baik juga langsung saja pergi, seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti, yasudah! Kami harus membantu kalian! Karena kalian butuh kami. Begitu mungkin yang ada di kepala mereka, begitu tulus.

Akhirnya, mobil yang kita pakai hanya sampai batas pohon bolong, sudah tidak bisa melaju lagi, karena kondisi jalan dan tanjakan-tanjakan yang makin curam. Ya sudah, mau gimana, tidak mungkin kembali lagi kan, sudah sampai disini, kita lanjut saja jalan.

Batas terakhir Pohon Bolong ini. Dan kami melanjutkan perjalanan dengan terus melangkah, yaaa mendaki memang seharunya seperti ini, kan? Hehe

Memulai pendakian dari Pohon Bolong.

Kita baru mulai mendaki dari titik ini, pukul 08.29, check poin berikutnya adalah Benteng. Pemandangan seperti ini tidak pernah ku rasakan di pendakian ku sebelumnya. Sepanjang perjalanan, mata kami begitu di manjakan dengan pepohonan Ampupu, kalo tidak salah, dan beberapa pohon yang aku tidak tahu namanya, berdiri dengan indah, seperti sengaja di bentuk atau dipahat, sekilas seperti bonsai raksasa! Kicauan burung yang tidak henti-henti, dan yang paling beda adalah, kuda. Kuda akan menemani pemandangan kiri kanan kalian selama perjalanan, seperti di negeri dongeng!

Check poin ke dua, Benteng.

Sekitar pukul 09.30, kami sampai di Benteng. Oh bukan bangunan yaaa yang dimaksud dengan benteng, tapi sebuah bukit batu besar yang menjulang, bak benteng. Bapak Anin bilang, jika kita berdiri di puncak benteng, kita seperti sudah sejajar dengan Gunung Mutis. Tapi karena harus irit-irit tega, jadi kami tidak naik ke atas benteng hehehe

Oh indahnya perjalanan kami!!

Benteng atau bukit batu yang menjadi check poin ke dua kami. Butuh kurang lebih satu jam untuk sampai disini dari batu Bolong. Cenderung masih berjalan santai, dengan keadaan jalan berbatu yang memang menjadi akses jalan satu-satunya dari desa Fatumnasi ke desa lain di bawah kaki gunung Mutis ini. Jika menggunakan mobil jeep 4WD seperti di Jogja atau Semeru sana, kita masih menaiki mobil itu sampai disini. Yaa mau gimana lagi, jalan saja terus!

Di bawah benteng terdapat Padang rumput kecil dan juga danau, yang agak kering, mungkin kalo musim hujan tempat ini jadi danau yang cantik!

Menuju Sabana Satu, check poin ke tiga.

Perjalanan mulai terasa sangat panjang, dan mulai terasa cukup lelah, sesekali kami berhenti dan duduk-duduk untuk beristirahat. Sesekali juga berfoto dan bersenda gurau, untuk menghilangkan lelah.

Kaks Udex, Kaks Hendra, dan Pak Samuel yang sedang beristirahat.

Kalo kaks Icon tetap narsis di tengah-tengah hutan lumut kecil dalam perjalanan.

Setelah sekitar satu setengah jam berjalan, kami sampai di Sabana satu, tepatnya pukul 10.52. Aku begitu terpukau atas apa yang di sajikan oleh sabana satu, setelah jalan sejauh ini, ini dia hadiahnya! Luar biasa!!!

Indah bukan? Ini tidak sampai 1%, keindahan 100% persen di abadikan langsung oleh mataku, mata lensa hanya mampu menangkap keindahan ini tak sampai 1% nya.

Sabana 2 dan puncak Mutis yang terlihat di depan itu seperti memanggil ku untuk segera datang! Yaaa, aku pasti akan kesana!!

Dibalik bukit ini lah kalian akan terkejut melihat keindahan sabana 1, tapi menurut ku spot ini cukup unik, banyak seperti batang-batang pohon yang tergeletak begitu saja seperti menambah keindahan alami, agak misterius.

Kami cukup lama bersantai disini, aku sudah pasti mengambil footage drone untuk video, sementara yang lain berfoto-foto. Sampai tak terasa sudah jam 12 lewat. Yang lain sepertinya tidak sanggup melanjutkan perjalanan karena kelelahan.

Aku sontak mengajak Pak Samuel untuk menemaniku mendaki sampai puncak. Jam 12 lewat sedikit kami memulai perjalanan, dan dari jauh tiba-tiba Kaks Hendra berteriak dan mengejar. Ternyata Ia juga ingin menggapai puncak bersama ku, aku aja yang dari Jakarta semangat sekali untuk menggapai puncak tertinggi Tanah Timor, masa Kaks Hendra yang asli dari Pulau ini tidak semangat. Hehehe

Aku tau betul bagaimana waktu istirahat kita yang sedikit, sehingga membuat kak Icon, Kak Udex, Mansu dan Awan memutuskan untuk tidak lanjut, memang tidak baik memaksakan diri. Dan diri sendiri yang lebih tau, apakah badan dan stamina kita masih sanggup atau tidak untuk mendaki. Tapi keyakinan juga berperan penting. Nah karena aku yakin, maka dari itu aku siap mendaki!

Mendaki sesungguhnya, menuju Sabana II

Aku pikir Sabana II ini jaraknya dekat, ternyata jauh juga yaa, padahal terlihat dengan jelas dari sabana 1. Oh iya, info dari Pak Samuel, mobil double gardan hanya bisa sampai di sabana 1. Tapi lumayan juga sih kalo bisa naik mobil sampai sabana 1, benar-benar bisa irit tenaga juga waktu, apalagi mau tek-tok kaya aku gini.

Sabana 1 terlewat, kali ini kami benar-benar masuk hutan dan menanjak. Ini baru mendaki sungguhan, jalurnya pun sempit, sudah tidak mungkin ada kendaraan apapun bisa naik. Jalan kaki aja sulit.

Begini lah jalur menuju Sabana II.

Dan akhirnya setelah tanjakan-tanjakan yang melelahkan, kami sampai di Sabana II dengan diselimuti kabut. Agak spooky yaa. Hehehe

Berjalan perlahan menelusuri Sabana II, melintas di tengah kabut yang begitu lembut dan sejuk, seketika membuat ku sungguh bersyukur bisa kembali merasakan ketenangan ini. Aku seperti dipeluk oleh seluruh penghuni Gunung Mutis! Aku cinta ini.

Kabut tiba-tiba hilang tersapu angin entah kemana, dan ternyata dia bukan hilang, Mutis menunjukkan aku sesuatu….

Ya Allah ini lukisan atau nyata. Topografi ini luarbiasa! Seperti alam itu begitu luas dan kaya. Manusia dan peradabannya hanya lah sebesar kuku di jari jemari.

Nah dari Sabana II ini, Puncak Gunung Mutis terlihat lebih dekat yaa? Iyaa dekat dimata jauh di kaki! Hahaha. Yuk lanjut perjalanan kita.

Sabana II – Pintu Gerbang Pendakian Gunung Mutis.

Sebenarnya jaraknya cukup dekat, tapi ini adalah check poin terakhir. Jadi dari sini lah kita akan benar-benar ada di badan gunung Mutis, tanjakan-tanjakan yang terus menerus, dan akan mengantarkan kami pada puncak Mutis. Tidak ada lagi bonus sabana, karena dari sini akan terus menanjak.

Jam 13.30 kami mulai berjalan dari sabana II, dan 15 menit kemudian kami sampai di Pintu gerbang. Memang tidak ada pintu apapun, juga gapura. Hanya ada satu bongkah batu di tengah-tengah jalur, yang rasanya juga bukan dibangun manusia, ini seperti batu alami.

Seperti ini lah bentuk batu/pintu gerbang menuju puncak Mutis. Dan setelah ini, tantangan sesungguhnya baru dimulai!

Pintu Gerbang – Puncak Mutis

Pukul 13.45 kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Mutis. Jalur lebih menanjak, dan jauh lebih berat. Mungkin ini juga karena stamina yang terus berkurang. Angin bertiup sungguh kencang diatas sini.

Sesekali kami berfoto sebentar untuk mengabadikan momen perjalanan.

Dan beberapa kali Pak Samuel harus mengeluarkan Parangnya untuk membuka jalur yang begitu rapat.

Pemandangan dari sela-sela jalur pendakian. Topografi yang indah. Di ujung sana ada dua desa terakhir Indonesia di Pulau Timor. Desa Kefa dan Desa Atambua, berbatasan langsung dengan negara Timor Leste.

sabana II dan Sabana 1 yang sudah terlihat sangat Jauh di bawah.

Beristirahat sembari berbincang banyak hal dengan pak Samuel.

Dan setelah kurang lebih dua jam berjalan. Kami sampai di tanah tertinggi Gunung Mutis. Pukul 15.45 kami sampai di puncak. Rasa haru, sedih, bangga, campur aduk. Ya Allah, satu lagi nikmat dan anugerah mu kurasakan, sungguh nyata. Aku tidak bisa mengucap syukur lebih dari apapun. Semangat yang kau berikan, sungguh membuat ku percaya bahwa aku mampu.

Aku percaya bahwa Keyakinan akan memberikan kita kekuatan yang lebih. Lebih baik tidak usah sama sekali jika ragu-ragu, yang ada nantinya hanya pesimisme, dan sugesti-sugesti negatif. Aku percaya ada kekuatan besar dari sebuah keyakinan. Maka dari itu aku selalu meyakini setiap jalan yang aku ambil.

Teruntuk Kak Hendra dan Pak Samuel yang sudah menemani ku menggapai puncak ini, Terimakasih banyak! Dan sehat selalu untuk kalian!

Dan untuk Kak Icon, Kak Udex, Mansu dan Awan yang menunggu ku kembali dari puncak di sabana 1, terimakasih banyak. Tanpa dukungan dan semangat kalian, aku tidak akan sampai pada titik ini. Terimakasih banyak.

Oh iya, sekitar dua jam waktu yang di butuhkan untuk turun dari puncak sampai kembali ke sabana 1. Itu pun tanpa berhenti. Karena jarak dari sabana 1 yang cukup jauh sampai kembali ke desa Fatumnasi. Jam 7 malam kami baru benar-benar sampai kembali kerumah bapak Anin. Dengan aku yang sudah tidak sanggup berjalan hehehe.

Aku cinta sekali dengan gunung Mutis, sama kaya cinta aku ke kamu yang selalu baca tulisan ku, hehehehe. Makasih yaa.

Schode Ilham Written by:

dengan membaca semua tulisan ini, kalian telah menelanjangiku bulat-bulat.

One Comment

  1. May 18, 2018
    Reply

    Menakjubkan bang, wah bersyukur banget bisa kesana …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *