Jalur Pendakian Gunung Sibuatan, Tanah Tertinggi Sumatera Utara.

Teruntuk Gunung tertinggi Sumatera Utara dengan Hutan lebat setianya, akar-akar pohon yang berjiwa, hutan lumut yang berbisik, dan lumpur-lumpur yang memberikan kesegaran pada kaki-kaki lemah ku. Tetaplah seperti itu, seperti hidup dan selalu lestari. Mt. Sibuatan, Tanah Tertinggi Sumatera Utara, 2 Desember 2017.

“Eh Mansu, dari pada lu bolak balik Jakarta-Medan cuma naik ke Papandayan lagi ngapain sih, buang-buang duit aja. Mending tiket PP jakarta-Medan lo gue pake sebaliknya aja, jadi gue yang ke Medan, nyamperin lu, sekalian gue pengen banget daki Sibuatan, sembari nyicil mimpi gue buat mendaki puncak tertinggi setiap provinsi di Indonesia.”

Jadi minggu ini gue sama @awanethniccraft baru aja selesai bazzar di Taman Menteng, Jakarta Selatan. Nah Mansu, sebagai salah satu Founder Awan Ethnic harus jauh-jauh terbang dari Medan ke Jakarta untuk kontrol langsung kegiatan bazzar. Mansu sementara harus berdomisili di Medan, karena penempatan kerja dari kantornya.

Kebetulan jumat besok itu ada tanggal merah, kami yang gak betah dirumahpun memikirkan mau jalan kemana long weekend ini, tapi bukan kami sih, lebih ke mansu yang masih sibuk sama dunia perkantoran, kalo gue? setiap hari juga long weekend hahaha.

Awalnya sempat mengemuka ide buat daki Papandayan, lagi, ahh! Masa Papandayan lagi sih?? Yaa emang gak terlalu jauh sih dari Jakarta, bisa selesai dalam tiga hari dan Mansu bisa balik lagi ke Medan tanpa harus cuti kerja. Tapi setelah keluar ide gue diatas barusan, untuk tuker ide jadi gue yang ke Sumatera Utara, jadilah opsi itu yang kami pilih. Dan malam itu juga Awan langsung check tiket ke medan untuk keberangkatan hari kamis ke Bandara Kualanamu. Iyaa Awan harus ikut lah, kan dia bos besarnya, kalo dia gak ikut, siapa yang mau nanggung hidup gue selama di Sumatera Utara? hahahaha

Lagi-lagi harus gue bilang, enak kan jadi gue? hehe. Tapi gak instan loh, butuh banyak perjuangan, jatuh dan bangun untuk bisa jalan-jalan tanpa keluar uang dan dibayar hehehe. Oh dan satu lagi, yang mendadak itu emang udah pasti asik dan potensi PHP nya lebih kecil, jadi mulai lah kritis berfikir supaya bisa spontan dan dadakan hehehe.

Jadilah formasi kali ini ada kami bertiga, Gue, Awan, dan Mansu. Tapi kata Awan dan Mansu, teman-teman baik di Sumatera Utara sudah siap menjamu dan ikut dalam perjalan yang pasti akan luar biasa ini. Mantaaapppp!! Makin gak sabar euy!

Jam 10 Pagi, gue dan Awan dijadwalkan terbang ke Sumatera Utara dari Soekarno Hatta. Jam 7 pagi kami sudah berangkat ke Bandara karena lalu lintas di Jakarta memang tidak bisa diprediksi kapan macet dan tidaknya, lebih baik menunggukan dari pada telat?

Kami sampai di Bandara ternyata hanya satu jam, masih ada dua jam untuk menunggu sampai boarding, santaaaiii itu enak yaa, gak diburu-buru dan jadi enjoy mau ngapa-ngapain. Kami pun masuk kedalam bandara, setelah selesai melakukan pemeriksaan barang bawaan di mesin X-Ray Bandara, seseorang menepuk pundak gue dari belakang, “assalamualaikum bang”, sapanya pelan, gue pun kaget dan langsung menoleh, seseorang yang sangat familiar wajahnya, ternyata teman instagram gue yang sudah sejak lama pengen banget gue temuin, Hendi Syahputra. Kebetulan dia mau pulang ke Bengkulu pagi ini, setelah seperti biasa berkelana untuk mencari keindahan alam. Yaampun setelah dari dulu selalu berwacana untuk bisa jalan-jalan bareng, ketemunya malah di bandara hahaha. Pertemuan singkat ini kita manfaatkan dengan ngobrol panjang lebar dan sarapan bareng, sampai akhirnya Hendi harus terbang duluan ke Bengkulu. Sehat selalu Saudara ku, semoga bisa banar-benar jalan bareng yaaa hehehe.

Jam 11 siang, gue sama Awan baru benar-benar terbang, agak panik sih karena di bandara sempat hujan deras, takut ada turbulensi lebay selama di pesawat. Tapi sesaat sebelum take off, alhamdulillah hujan berangsur-angsur mereda, dan alhamdulillah juga langit sepanjang Pulau Sumatera sangat cantik dan cerah, sama sekali gak goyang pesawatnya, serius deh! hahaha.

Jam 1 siang kami sampai di Bandara Internasional Kualanamu. Kami tidak langsung bergegas ke Medan, tempat dimana teman-teman di Sumatera Utara ini akan menyambut kami.

Tadinya gue pengen banget nyobain naik Kereta Bandara sampai ke Kota Medan, tapi karena masalah budget, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan taksi online, yaaa gimana, naik kereta perorang 100 ribu, sementara bayar taksi online cuma 120 ribu dan bisa patungan, baiklah, lebih bijaksana kalo patungan bayar taksi online aja, namanya juga backpackere hahaha. Oh fyi, jarak dari Kualanamu ke Kota medan itu sekitar 30 Km atau 40-1 jam jika menggunakan taksi online. Kalo pake Kereta sih bisa lah setengah jam karena tanpa hambatan, tergantung kebutuhan masing-masing, oh dan tebal kantong tentunya hahahaha.

Akhirnya kami sampai di kostan Mansu, tak menunggu lama, datang seorang teman, Bang Tanzil namanya, sampai sekarang gue manggil dia Bang Takjil, semacam panggilan persahabatan hahahaha. Lalu dateng lagi Eki, tak ada berkata-kata, tapi ternyata memang anaknya pendiam, mungkin dia menjatah berapa kalimat yang keluar setiap hari dari mulutnya hahaha, bercanda yaa Ki. Lalu gak lama, si tuan rumah datang (Mansu), eksekutif muda baru selesai ngantor dan siap keluar dari pemandangan komputer dan meja kantornya yang menjadi pemandangan setiap hari hahaha. Dan terakhir datang lah Bang Komeng dengan jemputan kami, jadi teman-teman di Sumatera Utara ini sudah menyewa mobil untuk mengantarkan kita berkeliling Sumatera Utara. Mantap, hospitality yang sangat luar biasa! Terimakasih saudara-saudara ku! Jadi tim perjalanan kali ini ada Gue, Awan, Mansu, Bang Takjil, Eki, dan Bang Komeng.

Sempat mampir Sebentar disebuah rumah makan dipinggir jalan, dan disana kami bertemu dengan dua wanita, ada Fina yang datang untuk mengambil oleh-oleh dari Awan, entah apa isinya dan ada cerita apa dibalik ini, yang jelas ini adalah ciri pertemanan yang sehat hahahaha. Terus ada juga Kak Femz yang datang dari Surabaya (teman Couch surfingnya Mansu) yang akan ikut kami camping satu malam di danau Toba. Oh iya, sebelum ke Gunung Sibuatan, kami sempat mampir dan kemah dulu di Paropo (Pinggir Danau Toba) karena memang rencana mendaki kita adalah malam minggu, sementara hari ini masih hari kamis, jadi dari pada membuang waktu percuma, kita pemanasan dulu kemping di Paropo, lagian masih satu jalur menuju Gunung Sibuatan di Tanah Karo. Oh iya untuk cerita Paropo dan Pesona Danau Toba, akan gue ceritakan di tulisan berikutnya yaaaa.

Perjalanan dari Medan menuju Sibuatan umunya dapat ditempuh dalam 3 jam perjalanan darat. Tanah Karo, itulah daerah yang harus kalian datangi jika ingin berkunjung ke Gunung Sibuatan. Mungkin, jika kalian memiliki waktu libur yang panjang, kalian bisa mengikuti itinerary kami, sebelum melakukan pendakian Sibuatan, rasanya sangat layak sekali pemanasan dulu di bukit-bukit cantik Paropo dan berenang di danau Toba, dan bisa juga mampir ke Air terjun Sipiso-piso. Jaraknya berdekatan jadi ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui hehehe. Kira-kira setengah jam lah jarak dari Sipiso-piso ke Kawasan Gunung Sibuatan.

Sebisa mungkin ajaklah orang lokal untuk menjadi bagian tim pendakian kalian, karena letak basecamp Gunung Sibuatan ini sulit ditempuh, tidak ada tanda jalan yang akan mengarahkan kalian ke basecamp Gunung Sibuatan. Ditambah rasanya sulit sekali mendapatkan kendaraan umum menuju lokasi. Beruntung gue dianter sama teman-teman Sumatera Utara yang budiman hehehe thanks guys! Oh yaa, keadaan lingkungan juga sepi, karena jalur utama sepertinya adalah jalur penghubung antara provinsi, jadi lebih di dominasi oleh truck-truck besar.

Gunung Sibuatan dikelola secara mandiri oleh pemuda setempat yang tiggal di desa Nagalingga. Mereka membentuk sebuah komunitas bernama Generasi Muda Pelestari atau disingkat GEMPARI. Basecamp Gunung Sibuatan berada sekitar 3 kilometer dari jalan utama. Melintasi sawah di kanan kirinya, tidak ada ojek atau angkutan umun, kamipun berjalan kaki untuk sampai basecamp. Ternyata Basecamp pun tidak sesuai dengan ekspektasi kami. Tidak ada bangunan sebagai pusat informasi atau hanya sekedar tempat bermalam. Juga tidak ada warung-warung yang ramai layaknya basecamp-basecamp pendakian di Pulau Jawa. Hanya lahan terbuka yang tidak terlalu lapang, serta sebuah sungai kecil dan toilet yang dikelilingi dengan karung-karung dan spanduk sebagai dindingnya. Sebelumnya memang ada sebuah pendopo sederhana, namun telah rusak tertiup angin dan hujan. Sepertinya perlu perhatian khusus dalam hal ini, agar para pengunjung juga merasa nyaman.

Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di areal basecamp ini, karena memang sudah terlalu larut untuk mendaki. Ada peraturan yang harus dipatuhi dimana pendaki dilarang untuk mendaki lebih dari jam 12 siang. Harus sebelum jam itu, karena jalurnya memang sangat berbahaya untuk dilalui dalam keadaan gelap.

Oke sekarang mari kita kupas tuntas setiap pos ke pos nya. Focus yaaa! hehehe

Jadi di Sibuatan ini gak ada nama-nama pos yang umum diberikan sperti di jalur pendakian gunung-gunung lain. Namanya yaa cuma gitu aja, pos 1, pos 2, pos 3 dan seterusnya. Gak tau sih kenapa begitu, yaa tapi kita ngikutin aja lah yaa hahaha

Area Basecamp Menuju Pos 1 (Estimasi 40 menit)

Jalurnya cenderung masih datar kok, enak banget buat permulaan mengenal track, dan gak ngagetin alias gak langsung ketemu tanjakan-tanjakan terjal. Jalurnya juga adem banget karena ketutup sama pepohonan yang rapat. Pokoknya enjoy banget lah jalur menuju Pos 1 ini. Udaranya juga sejuk banget. Gak berasa setengah jam kita udah sampai di Pos 1.

Oh iya ada yang menarik ditengah perjalanan menuju Pos 1. Kami melihat seorang yang mendaki didepan kami kembali turun dengan sedikit berlari, sontak aja gue nanya “Wah Bang, kok turun lagi? baru aja jalan sedikit” “Iya mas, tutup botol kami jatuh satu, harus kami cari lagi karena gak boleh ninggalin barang yang kita bawa, apalagi sampah”. GILA!!! Keren banget gak sih, doi balik lagi cuma karena satu tutup botol jatoh. Yaaa emang sih, di gunung ini, kalian akan benar-benar dicheck barang bawaan nya, dari satu bungkus rokok isinya ada berapa, makanan berapa banyak, sampe misalnya mie instant didalamnya ada berapa bumbu, dan botol itu dihitung dua, botol dan tutupnya. kalo pas turun jumlahnya gak sama, yaa harus naik lagi keatas untuk diambil atau dicari, ataaauuuu, bayar dendanya 500 ribu rupiah hehhe. Cukup tegas yaa, sepertinya harus ditiru digunung-gunung lainnya.

Pos 1 menuju Pos 2 (Estimasi 40 menit)

Jalurnya sedikit lebih menanjak dari jalur menuju pos 1, tapi masih tidak terlalu terjal. Kami mulai masuk kedalam hutan lumut yang menjadi ciri khas dari Gunung Sibuatan. sepertinya curah hujan digunung ini memang cukup tinggi. Menjelang pos 2 langit mulai mendung, dan benar saja, setelah sampai di Pos 2, hujan berangsur-angsur mulai turun.

Si oncom @awanikhwan imut banget dengan jas hujan yang warnanya sangat mencolok mata hahahaha

Selain Hutan lumut, batang dan akar pohon disini gak mau kalah eksis, makanya mereka sering banget tuh ditengah jalur, supaya eksistensinya berasa hahaha, dan percayalah, ini adalah gunung dengan akar pohon yang paling menantang sepanjang gue mendaki gunung, beberapa titiknya penuh dengan akar-akar yang melingkar dan melintas ditengah-tengah jalur. Ini yang bikin gue semangat mendaki gunung ini, sensasinya beda coy!

Pos 2 Menuju Pos 3 (Estimasi 60 menit)

Jalurnya mulai berlumpur dibeberapa titik, hati-hati loh, kadang-kadang lumpurnya ngagetin. Keliatannya gak dalam, pas diinjek eh kok sedengkul hahahaha. Awal-awal sih masih menghindar, kaya melipir-lipir ke pinggir jalur yang tanahnya lebih solid, atau yang ada akarnya, tapi hati-hati loh, akar itu kan kayu gitu yaa, kalo dia basah atau sepatu kita basah, kemungkinan kepelesetnya tinggi banget, kejadian sama gue sekali, hampir gue salah jatoh dan berakibat fatal bisa bikin kaki patah huhu, untung alam masih berpihak ke gue yaa hehehe.

Bang @Tanzilalkhairiii udah paling hapal sama jalur ini, iyalah udah lebih dari dua kali loh kesini hahahaha
Jalur menuju pos 3 ini agak bikin bingung sih, yaa masa naik gunung jalurnya turunan terus, gue sampe ngerasa salah jalan tapi kok yaa gak ada persimpangan, jalurnya cuma satu, yaudah ikutin aja, dan ternyata emang jalurnya turun dan mutar menuju pos 3 ini, turun terus sampe akhirnya kita ketemu pintu angin yang menjadi ujung jalur menurun. Didepannya sudah menanti tanjakan super terjal dan penuh akar-akar hahaha, sebel banget abis turunan eh nanjaknya kek gini wkwkwkwk, etapi tapi, diatas tanjakan super terjal ini langsung pos 3, jadi yaa lumayan lah bonus istirahat setelah kaget sama tanjakannya hahaha

Pos 3 Menuju Pos 4 (Estimasi 120 menit)

Disini kita banyak melewati akar-akar pohon yang menutupi jalur. Gue sama sekali gak protes asli, cuma ketawa-ketawa aja, seru banget! Gak pernah nemuin gunung dengan jalur berantakan kaya gini. Berantakan karena alami yaa, bukan karena sampah. Beneran deh akar pohon disini berantakan banget hahahaha.

Ini Eki a.k.a @blckblrd sampe senyum-senyum sendiri liat jalurnya hahahaha

Dan setelah jalur yang berat ini akhirnya kita sampai di pos 4, beneran capek cuy, nguras energi banget jalur pos 3 ke pos 4. beneran nanjak terus lah dari bawah. Ini pasti karena jalur pos 2 yang malah turun dan muter -_-.

Liat deh akar-akar yang ini, lucu yaa mereka, bikin ketawa-tawa lah liat akar-akar di jalur gunung ini hahaha
Hampir dua jam lah perjalanan dari pos 3 sampai ke pos 4. Perlu energi ekstra untuk bisa sampai ke pos 4, jadi kalo bisa sempatin makan dulu yaa di pos 3, oh iya jangan lupa persediaan minuman, soalnya jalur gunung Sibuatan ini jarang ada sumber air. Katanya sih ada satu sumber air di dekat pos 4, tapi airnya agak kuning. Kalo gue sih milih untuk mencukupi persedian air pribadi.

Pos 4 Menuju Pos 5 Area Camp (Estimasi 90 menit)

Jalurnya masih didominasi tanjakan-tanjakan, sesekali ada jalur datar yang lumayan juga buat kembali mengatur napas. Setelah itu hutan dengan pohon-pohon tinggi mulai kami lewati. Jalur mulai mendaki terjal dengan ilalang dan pohon cantigi sebagai penghiasnya.
Mulai terbuka namun dikeliling kabut. Agak spooky gimana gitu yaaa, mana gerimis lagi, bahaya lama-lama ditempat terbuka kaya gini, takut ada petir huhu. Dari sini jalan menanjak terus, sampai akhirnya sekitar 15 menit kalian akan menemukan plank Pos 5
Oh btw, areal camp Pos 5 juga sudah termasuk puncak Gunung Sibuatan yaaa, selain puncak camp ini, ada juga puncak barat dan puncak timur. Nah puncak tertingginya adalah Puncak Barat. Jadi kalo kalian ingin benar-benar sampai titik tertingginya, kalian harus ke puncak Barat. Kira-kira dari areal camp ini sekitar 30 menit lah yaaa. Karena sudah mulai gelap, kami memutuskan untuk beristirahat dulu, dan besok pagi baru memulai perjalanan menuju Puncak Barat.

Pos 5 Areal Camp – Puncak Barat (Estimasi 45 menit)

Jalurnya sempit tertutup pepohonan pendek dan penuh lumpur di 10 menit awal. Gue udah gak perduli lagi sama lumpur, udah lah terobos aja, udah terlanjur kotor, mau ngindar juga udah gak bertenaga lagi hahaha. Lumpurnya semata kaki coy, dan coba diliat mau melipir kek gimana lagi kalo jalurnya kaya gini, yaudah pasrah aja lah kecemplung dilumpur, lagian kan namanya juga naik gunung, masa bersih, kalo bersih main ke mall aja kali yaa hehehe.
Pendakian paling kotor seumur hidup? kayanya iyaa hahaha, belum pernah ngerasain lumpur yang sebegininya di jalur gunung manapun. Sebelumnya pendakian terkotor itu yaa Kerinci, tapi di Sibuatan ini lumpur lah lebih gila lagi sih, seru abis gak bohong hahahaha.
Setelah itu akan ada sedikit tempat terbuka yang di dominasi tanaman edelweis. Tak lama dari sini kalian akan melewati satu tanjakan terakhir sebelum sampai di Puncak Gunung Sibuatan.
Dan YEAAAYYYYY!!! Kalian akan bertemu dengan sebuah tugu yang menjadi tanda puncak tertinggi Gunung Sibuatan! Gak lupa untuk ritual tiduran ditanah yang bermaksud merayakan pencapaian ini dengan memeluk bumi (tanah) sambil mengucap syukur. Oh iya disekitar puncak dikelilingi pohon-pohon, jadi gak bisa lihat pemandangan dari puncak ini, lurus kedepan sedikit ada jalan sedikit menurun dan terbuka untuk melihat pemandangan.
Waktunya kembali turun, tulisan ini gue dedikasi untuk teman-teman yang luarbiasa baiknya, ikhlas mengantar gue berkeliling walaupun sudah bukan kali pertama datang ketempat ini, maaf kan segala bentuk kekurangan dari tindakan dan ucapan gue yang mungkin kurang berkenan, kalian benar-benar baik tanpa pamrih, itu yang gue rasakan, Teruntuk Awan Ikhwan, Mansu, Bang Tanzil, Bang Komeng, dan Eki, Semoga hal-hal baik selalu dan senantiasa berada di sisi kalian.
Oh iya, terimakasih sudah membaca cerita Sibuatan gue yaaa! Karena gue rilis tulisan ini bertepatan dengan malam tahun baru, gue mau ucapin selamat buat teman-teman yang telah berhasil mewujudkan resolusinya sepanjang tahun ini, dan gue juga doain semoga tahun depan akan lebih luarbiasa buat kalian semua. Sehat dan Sukses untuk kita semua, dan sampai bertemu lagi di tulisan perjalanan gue berikutnya. Apalah arti tulisan tulisan ini jika kalian gak baca 🙂 Sekali lagi Terimakasih banyak!!!!!
Schode Ilham Written by:

dengan membaca semua tulisan ini, kalian telah menelanjangiku bulat-bulat.

3 Comments

  1. January 17, 2018
    Reply

    Seru ya om, klo aku pendakian terkotor di Gunung Pananjakan. Itu gunung pertama yang aku nanjak. Pas nanjak hujan deraaaass. Pas turun jalan licin belepotan lumpur. Ditambah kepleset beberapa kali. Ampuuuuuuun dah 🙁

    Tapi seru pengalamannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *