Jalur Pendakian Gunung Talamau via Desa Pinaga, Pasaman Barat. Tanah tertinggi Sumatera Barat.

“Odeeeeee, cepetan susul gue di atas, gue udah gak kuat lagi, gue butuh makanan, gue mau pingsan nih”. Teriak seorang teman pendakian ke gue yang masih di bawah, yang selalu tertinggal dari dia kira-kira 10-15 menit. Yaaa, padahal kondisi teman pendakian ini paling prima diantara kita bertiga, tapi diapun sempat menyerah di tengah-tengah jalur terbuka dengan kemiringan 70-80 derajat antara Pos Bumi Sarasah dan Pos Paninjauan, menjelang hari gelap. Gue yang udah payah banget selalu didampingi satu teman pendaki di belakang, sementara teman pendakian yang di depan bersama seorang Guide yang kami sewa dari desa dikaki Gunung. Formasi kami dari awal memang begitu, gue yang tidak begitu fit, sebab kegiatan yang padat sebelum pendakian ini, cepat sekali merasa lelah, ditambah kondisi pernapasan yang sedang buruk.

Pendakian Gunung Talamau, Gunung tertinggi di Sumatera Barat ini memang diluar dari ekspektasi gue dan teman-teman, berangkat dari minimnya informasi dan bermodal rasa penasaran, terlebih setelah mendengar kabar bahwa dari puncak Gunung Talamau, kita bisa melihat 13 Telaga, maka makin besarlah tekad gue untuk datang ke guung ini. Perjalanan yang awalnya gue kira akan sangat santai, menjadi sangat panjang, malah menjadikan pendakian paling berat selama gue pernah mendaki gunung. Bahkan gunung ini jauh lebih berat dibandingkan ketika gue mendaki Kerinci, Semeru, dan Rinjani. Kenapa begitu? Akan gue jelaskan sangat detail berikut dengan informasi-informasi yang akan memperkuat niat dan persiapan pendakian kalian ke Puncak Tertinggi Sumatera Barat ini, agar tidak keliru kaya gue😁.

• Gimana sih cara ke Gunung Talamau kalo mulainya dari Kota Padang?

Sebelum sampai ke Sumatera Barat, gue ada kegiatan di Kalimantan Selatan, menjalankan proyek bersama dengan Kementrian Pekerjaan Umum dalam rangka netizen visit hari habitat dunia. Selepas kegiatan di Kalimantan Selatan, esoknya, jam 1 siang gue melakukan penerbangan ke Sumatera Barat, dengan waktu istirahat yang sangat sedikit. Sampai di Bandara Minangkabau sekitar pukul setengah 3 sore, dan gue langsung menuju Universitas Negeri Padang dengan bus Damri (biaya 25.000) dari bandara karena disana sudah menunggu teman pendakian gue, begitu juga bus terakhir menuju Pasaman Barat, letak dimana Gunung Talamau berada. Bus terakhir dari Universitas Negeri Padang ke Pasaman Barat adalah jam 4 sore.

Perjalanan dari Padang ke Pasaman Barat memakan waktu 4 jam, biaya yang dikeluarkan adalah 35 ribu perorang. Sampailah kita di simpang 4, setelah 4 jam perjalanan dari Padang. Dari Simpang 4 kami masih harus menuju Desa Pinaga, desa terakhir sebelum kami memulai pendakian. Sempat kebingungan karena kami juga minim informasi mengenai bagaimana caranya sampai ke basecamp pendakian Gunung Talamau, dan akhirnya kami mengiyakan sebuah ajakan dari seseorang pemuda yang menawarkan diri untuk mengantar kami bertiga dengan mobilnya sampai ke desa Pinaga. Dengan biaya yang cukup mahal karena memang kami tidak tahu berapa tarif sebenarnya dan berapa jauh jarak dari simpang 4 sampai ke basecamp pendakian Gunung Talamau. Maka dari itu, gue akan memberikan informasi mengenai hal ini, agar memudahkan siapapun untuk bisa mendaki Gunung Talamau, dengan biaya yang terjangkau.

Dari Simpang 4 Menuju Desa Pinaga, Basecamp pendakian Gunung Talamau.

Dari simpang 4 ini pendaki biasa menggunakan angkutan umum dengan biaya 10 ribu rupiah sampai ke pintu gerbang pendakian yang jaraknya kurang lebih 10 km dari simpang 4. Atau bisa juga menggunakan jasa ojek dengan harga 2x lipat. Karena saat itu kami tiba sudah terlalu malam, angkutan umum sudah tidak lagi ada. Angkutan umum ini biasa beroperasi sampai sore hari saja, tapi kalian bisa menggunakan jasa ojek jika hari sudah malam, kalo kalian bisa bahasa Minang, sepertinya akan mudah bertransaksi, lantaran kami bertiga tidak bisa berbahasa Minang, yaa jadilah kami makin kesulitan hehehe.

Orang yang harus kalian hubungin dan paling berkepentingan atas Gunung Talamau adalah Uda Andri. Beliau adalah Penanggung jawab Gunung Talamau, saat ini juga aktif di Dinas Pariwisata Pasaman Barat, rumahnya adalah basecamp pendakian sekaligus tempat informasi dan perizinan untuk mendaki Gunung Talamau. Agar memudahkan, ini nomer Uda Andri yang bisa kalian hubungi untuk mendapatkan informasi lebih jelas tentang Gunung Talamau; 082171039333 atau kalian bisa check di instagram @satgas.talamau.

Rumah Uda Andri berada tak jauh dari gerbang Pintu masuk Pendakian Gunung Talamau. Sedikit agak di dalam memang, tapi tanya saja warga, pasti semua tau rumah Uda Andri.

Selama 4 bulan terkahir, hanya abang bertiga saja yang mendaki Gunung ini, tidak banyak memang yang ingin mendaki disini, karena jalurnya sangat berat dan panjang. Pendaki-pendaki di Sumatera Barat ini lebih memilih untuk mendaki Gunung Singgalang atau Gunung Marapi”, Uda Andri bercerita. “Serius Uda? Cuma kita bertiga nih yang mau mendaki gunung ini? Jadi diatas gunung ini tidak ada orang lain selain kita?”.

Begitulah. Jadi hanya kita bertiga yang akan mendaki ke gunung yang masih alami dan begitu lebat ini. Gue sih percaya banget, soalnya gue aja susah banget cari informasi detail tentang gunung ini, gak pernah punya teman yang udah ngedaki ini gunung. Sebuah tantangan luarbiasa buat gue,. Lucunya, setiap orang yang bertanya gue mau kemana, seakan gak percaya kalo gue bilang gue mau ke Gunung Talamau, contohnya Warung tempat gue makan di sekitar bandara Minangkabau, “Mau mendaki gunung apa mas?” // “Gunung Talamau, Ibu” // “Gunung Talamau?? Gunung Kerinci kali mas?” Yaaa begitu lah, memang banyak juga pendaki kerinci yang memulai perjalanan dari Bandara Minangkabau. Bahkan gue sempat mampir sebentar ke tempat pangkas rambut asli Minang yang tidak tau tentang Gunung Talamau. Maka dari itu gue makin semangat untuk menulis artikel ini dengan terang benderang dan sejelas-jelasnya.

Sebenarnya agak dilematis juga. Gue pengen Gunung Talamau ini dikenal khalayak luas, karena Gunung ini adalah Gunung Tertinggi di Sumatera Barat, selain itu gue juga pengen banyak variasi Pariwisata di Sumatera Barat khusunya didaerah Pasaman, siapa tau bisa meningkatkan penghasilan masyarakat sekitar. Tapi di sisi lain gue agak khawatir. Gue takut gunung yang alami nan indah ini akhirnya menjadi rusak dengan semakin banyaknya pendaki yang datang. Serius, Gunung Talamau adalah Gunung yang paling bersih yang pernah gue daki. Aliran air sungainya yang begitu bersih tanpa sampah, dan hutan-hutannya yang masih rapat juga alami, bahkan gue menemukan hewan-hewan yang gak pernah gue temuin selama mendaki, ada Ular di tengah Jalur, ada kalajengking di dalam tenda, Serangga-serangga yang gak pernah gue liat, Elang, Burung Rangkong, bahkan ada Kura-Kura besar dan Orangutan. Kaya sekali. Tapi hasrat gue untuk memperkenalkan kecantikan Indonesia lebih besar, sehingga gue menulis artikel ini, harapan gue, semoga kita semua menjaga keindahan alam kita sendiri.

Jadi apa-apa saja yang perlu kalian siapkan untuk mulai mendaki gunung ini?.

Seperti yang gue bilang sebelumnya, berangkat ke Talamau ini memang benar-benar minim informasi, kesalahan pertama adalah tertipu dengan modus menolong sampai ke basecamp pendakian dari Simpang 4. Kesalahan kedua adalah gue tidak memperkirakan bahwa Gunung Talamau akan menjadi pendakian terpanjang dan terberat gue. Awalnya gue mengira bahwa pendakian ini akan santai saja mengingat gunung ini hanya memiliki ketinggian 2982 MDPL, dengan gue yang udah mendaki 3 dari 7 gunung tertinggi di Indonesia. Ternyata gue salah! Pelajaran pertama yang akan selalu gue bawa adalah jangan menganggap enteng apapun, terutama mendaki gunung. Karena setiap gunung memiliki jalur, elevasi dan tingkat kesulitan yang berbeda.

Talamau memang tidak terlalu tinggi, tapi, kita memulai pendakian benar-benar dari bawah. Begini, Mahameru sebagai Gunung tertinggi di Pulau Jawa memang memiliki ketinggian lebih dari Talamau, ketinggian puncak Mahameru adalah 3676 MDPL, tapi kita memulai pendakian dari Ranupane dengan ketinggian 2.200 MDPL, sedangkan start awal pendakian Gunung Talamau dari desa Pinaga dimulai dari ketinggian 320 MDPL. Benar-benar dari bawah! Kami yang dari awal menyangka pendakian ini hanya akan memakan waktu 2 hari 1 malam ternyata salah, kami malah menghabiskan waktu 3 hari 3 malam. Kesalahan ketiga adalah kami tidak membawa cukup logistik dari bawah untuk 3 hari 3 malam pendakian. Jadi apa saja yang perlu kalian perhatikan untuk medaki gunung Talamau?

1. Pastikan kalian sudah membaca tulisan saya ini, hahaha bercanda, tapi yaa gue rasa tulisan gue ini yang paling detail tentang persiapan pendakian Talamau hehehe. Atau kalian boleh juga cari-cari informasi terlebih dahulu dari teman yang sudah pernah mendaki gunung ini.

2. Jangan sampai mendaki dengan logistik yang pas-pasan. Kalian tidak akan bisa meminta logistik dari pendaki yang lain, karena kecil kemungkinan kalian bertemu pendaki lain sekalipun weekend, kecuali hari besar seperti 17 Agustus atau tahun baru. Di desa Pinaga juga tidak banyak Warung yang menjual makanan matang, dan mereka biasa tutup menjelang petang, hanya Warung-Warung kecil yang berjualan.

3. Bawa selalu tanda pengenal, KTP atau kartu pelajar. Jika masih sekolah Uda Andri pasti meminta surat izin dari orang tua sebagai salahsatu syarat.

4. Jika pendakian ke Talamau adalah pendakian pertama bagi kalian, maka kalian harus didampingi oleh Guide lokal, dengan biaya 150rb perhari. Ini penting karena memang jalur pendakian Gunung Talamau yang masih alami. Gue pun kemarin menggunakan jasa guide lokal selama 3 hari. Tapi jika dalam satu rombongan ada yang sudah pernah mendaki Gunung Talamau dan paham dengan medannya, maka kalian tidak perlu menggunakan jasa guide lokal.

5. Pastikan semua perlengkapan pendakian kalian lengkap, karena setelah kalian selesai melampirkan semua surat-surat yang di perlukan dan mengisi formulir (15 ribu perorang) Uda Andri akan mencatat dan cek seluruh peralatan serta logistik kalian dengan detail. Sebisa mungkin pakailah pakaian yang tertutup, baju lengan panjang, celana panjang dan sepatu yang pas, selain untuk menghindari panas matahari, Gunung Talamau ini banyak sekali Pacet nya. Mereka siap menyedot darah-darah kalian dengan beringas 😂 Oh iya, masih banyak nyamuk juga digunung ini, ditambah banyakan tanaman berduri.

Nah yuk sekarang kita mulai mendaki! Akhirnya tiga anak kota nekat yang minim informasi dan ingin menginjakan kaki di tanah tertinggi Minang ini sudah siap mendaki, gue udah gak sabar untuk menikmati segarnya udara ditengah-tengah hutan yang benar-benar alami ini.

Oke kita mulai perjalanan, oke gue ulang, kita mulai perjalanan dari titik 320 MDPL hahaha.

Basecamp Uda Andri – Pos 1 “Harimau Campo” (Estimasi 150 menit) Disini kami masih berjalan ditengah-tengah perkebunan warga, ada kebun jagung, salak, sampai kelapa sawit, Gunung Talamau masih keliatan jauh banget 😭, tapi disini kita masih riang gembira, jalanan masih landai, dan gue masih sempat main drone hahahaha

Tuh Gunung Talamaunya masih jauh banget kan! Tapi disini kita masih hepi-hepi aja, soalnya jalannya masih datar hahahaha.

Setelah melewati perkebunan warga, jalur akan dipisahkan oleh sungai yang alirannya cukup deras, aroma-aroma menantang mulai tercium dari gunung ini.

Setelah melewati sungai ini, jalur mulai didominasi oleh tanjakan-tanjakan yang mengagetkan, langsung terjal broooo, udah gitu cuaca panas karena kita masih belum digunung, masih terbuka banget.

Dan setelah tanjakan-tanjakan mengagetkan, sampai lah kita di Pos pertama, Pos Harimau Campo di ketinggian 710 MDPL, ia emang masih cetek hahahaha masih ada pohon pisang 😭. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Pos Harimau Campo adalah sekitar 3 jam.

Pos 1 “Harimau Campo” – Pos 2 “Rindu Alam” (Estimasi 155 menit)

Setelah beristirahat sejenak di Pos Harimau Campo, kami melanjutkan perjalanan, masih bertemu sedikit persawahan, setelahnya kembali dipisahkan oleh sungai dan baru kita benar-benar masuk kedalam hutan lebat Gunung Talamau. Jalur ini masih terbilang cukup landai, tapi terasa sangat panjang, disini kami beberapa kali terpukau dengan kekayaan alam yang dimiliki oleh Gunung ini, elang yang berseliweran, bahkan gue sempat kaget sama suara hempasan diatas kepala gue, ternyata itu keluar dari kepakan sayap burung rangkong yang sangat kuat terbang dari pohon ke pohon diatas gue. Luarbiasa.

Merangkak jadi kebiasaan yang sangat ……… menyebalkan, tapi ngangenin hahaha

Jalur ini sangat panjang dan melelahkan, gue yang kurang istirahat berasa banget capeknya melalui tanjakan-tanjakan panjang menuju pos Rindu alam. Estimasi waktu 155 menit pun terlewat dan kita sampai di Pos Rindu alam selama kurang lebih 200 menit. Karena sangat lelah dan cuaca juga kurang mendukung, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan camp di pos Rindu Alam. Untuk catatan setiap pos di Gunung Talamau ini dianugerahi dengan air yang berlimpah, sungai-sungai mengalir dengan deras dan jernih, mohon untuk di jaga bersama, jangan di kotori, jangan buang sampah sembarang, dan hindari juga membuang air kecil dan air besar di sungai yang jernih ini.

Pos 2 “Rindu Alam” – Pos 3 “Bumi Sarasah” (Estimasi 180 menit)

Setelah hujan semalaman di Pos Rindu Alam, kami kembali melanjutkan perjalanan sekitar jam setengah 10 pagi. Menurut Uda Ilham, track menuju Bumi Sarasih akan sangat panjang, dan akan cukup menanjak. Beruntungnya kami sudah beristirahat cukup banyak semalam. Mari kita hadapi jalur panjang ini.

Tau gak, gue ketemu ular dijalur pendakian yang lagi makan kodok, saking jarangnya pendaki, jalur pun menjadi lalu-lalang dan tempat beraktivitas berbagai hewan. Ternyata jalur menuju Pos Bumi Sarasah memang sangat panjang, gak nyampe-nyampe oi, yaudah tidur dulu lah dijalur. Ini nih yang paling enak disetiap pendakian, tidur di hutan dengan udara yang luarbiasa! Pabrik oksigen guyysssss hahaha

Setengah jam lah kira-kira gue santai-santai disini, rasanya tuh luar biasa, kalah lah spring bed semahal apapun hahaha. Lanjut jalan lagi yuk!

Ada beberapa titik jalur yang ketutup sama batang-batang pohon yang tumbang, lumut yang begitu tebal menandakan bahwa hutan ini memang sangat lebat sehingga matahari tidak mampu menembus kedalam hutan, juga menandakan bahwa sudah lama pendaki tidak menapakan kaki disini, karena lumut tumbuh subur dibatang pohon yang mati, seperti tidak pernah tersentuh tangan manusia.

Akhirnya setelah 5 jam berjalan, iya 5 jam hahaha kebanyakan istirahat, akhirnya kita sampai di Pos Bumi Sarasah, tandanya adalah suara sungai, jika terdengar suara sungai disebelah kiri jalur, berarti kalian sudah dekat dengan Pos Bumi Sarasah.

Disini banyak burung-burung yang bahkan dekat sekali dengan kita. Seru banget kekayaan alam Gunung Talamau ini.

Pos 3 “Bumi Sarasah” – Pos 4 “Paninjauan” (Estimasi 135 menit)

Lepas dari Pos Bumi Sarasah kami langsung disambut dengan tanjakan-tanjakan super. Untungnya kami sempat makan siang dulu di Bumi Sarasah tadi. Energi sedikit terisi. Tapi Uda Ilham bilang, tanjakan ini masih belum seberapa, didepan nanti bahkan ada tanjakan yang elevasinya sampai 80-85 derajat dengan pemandangan yang mulai terbuka. Waduh kayanya bakal capek banget jalur ini.

Nanjak terooossss boosssss! Semangat!!! Menjelang petang, dan kita mulai masuk ketanjakan-tanjakan yang Uda Ilham bilang, terbuka. MashaAllah! Pemandangan indah banget, baru sadar kita jalan sejauh itu 😅.

Jalur semakin tajam menanjak. Akhirnya kita sempat berhenti ditengah jalur yang sempit dan mengisi sedikit energi agar bisa sampai di Pos Paninjauan dan mendirikan tenda. Untuk catatan lagi yaa teman-teman. Gunung Talamau ini memang sedikit sekali jalur landai dan luasnya, jadi sulit juga membuat tenda darurat ditengah-tengah jalur, memang benar-benar harus sampai pos yang ditentukan. Bahkan dipos pun tidak begitu banyak tenda yang bisa berdiri, mungkin hanya bisa sampai 5 tenda.

Akhirnya setelah hampir 4 jam, iya satu setengah jam lebih lama dari estimasi, Kami sampai juga di Pos Paninjauan, dan sudah gelap, foto diatas diambil keesokan paginya, setelah kami menyelesaikan puncak Talamau.

Pos 4 “Paninjauan” – Padang Siranjano sekaligus telaga dan Pos 5 “Rajawali Putih” (Estimasi 75 menit)
P
, gue balas dengan istirahat yang cukup semalaman. Jam 5 pagi, kami sudah bersiap melakukan pendakian menuju puncak Talamau. Tanjakan-demi tanjakan menemani sepanjang pagi ini menuju Padang Siranjano yang katanya terdapat 13 telaga cantik ditempat ini. Paling tidak itu yang membuat kami begitu bersemangat, selain tujuan kami menggapai puncak. Lagi-lagi kami harus melintasi aliran air yang begitu segar dan jernih.

 Setelah tanjakan-tanjakan yang tidak ada habisnya, sampai juga kami di Padang Siranjano, oh iya ada peraturan umum disini, jangan lupa ucapkan salam ketika kita sampai disini, bukan masalah mistis, sebagai tamu sudah sepatutnya kita mengucap salam hehehe. Padang yang luas ini semakin cantik dengan beberapa telaga yang menghiasi di kanan dan kiri jalur. Indah sekali!!!

Telaga-telaga yang super cantik dilihat dari lensa drone, dan telaga sebesar ini, hanya milik kami berempat, gak ada orang lain coy! 😂

Kita sempat santai-santai dulu disini, membuat kopi hangat juga menyempatkan sedikit sarapan. Momen ini adalah yang paling bikin kangen. Udara pagi yang segar, pemandangan yang super indah, teman-teman terdekat, dan tempat ini hanya milik kami, tidak ada orang lain! Sumpah ngangenin banget yaa Allah! Ini tempat bersih banget loh! Gak ada satupun sampah, airnya benar-bener bersih, air suci banget rasanya. Jangan kamu kotorin yaa kalo kesini. Janji yaaa!

Di areal Padang Siranjano ini, tepat di sisi kanan Telaga, terdapat area camp terakhir di Gunung Talamau, Camp Rajawali putih namanya, tapi tanah disini agak basah dan seperti tanah gambut yang agak membal ketika dipijak.

Camp Rajawali Putih – Puncak Tri Martha 2982 MDPL (Estimasi 30 menit)

Jalan kembali menanjak, dijalur menuju puncak ini, kami kembali bertemu dengan sebuah telaga, dan yang paling membuat terpukau adalah pemandangan diseblah kanan kami, begitu terbuka! Tanah Minang begitu terpampang nyata didepan kami! “Sudah hampir lebih 30 kali saya mendaki gunung ini, belum pernah saya dapat yang secerah ini” Kata Uda Ilham yang juga takjub. Bayangkan, jangankan kota dibawah sana, seluruh pemandangan tersaji jelas didepan mata. Topografi bukit barisan yang begitu indah nan mempesona, barisan gunung Singgalang, Marapi, Sago, dan gunung-gunung lainnya terlihat sangat jelas.

Puncak mulai terlihat jelas didepan kami. Gue semakin semangat menguatkan kaki-kaki untuk terus melangkah. Hati bergetar ketika melihat kubah masjid yang menjadi tanda puncak Gunung Talamau. Beberapa langkah lagi gue akan sampai! Dan akhirnya gue sampai di puncak! Maha besar Allah dengan segala kuasanya. Gue berhasil menapaki kaki di Gunung Talamau, Tanah tertinggi Sumatera Barat.

Dan gue sujud sambil mewek hahahaha, saat itu, gue gak berhenti ngucapin terimakasih sama Tuhan atas apapun yang ia berikan atas hidup gue. Terimakasih Tuhan sudah memberikan kekuatan untuk bisa menggapai puncak pendakian terberat dalam hidup gue ini. Ternyata oh ternyata, teman pendakian yang lain juga ikutan mewek alias nangis hahaha. Dan gue, menjadikan gunung ini sebagai gunung paling berat yang pernah gue daki.

Dari Puncak, Telaga yang besar dibawah itu terlihat kecil-kecil, itulah, yang besar juga pasti terlihat kecil pada waktunya. Sebuah pertanda agar tidak sombong hanya menjadi manusia yang super kecil hehehe.

Tidak berlama-lama di puncak, kurang lebih hanya satu setengah jam, karena kami mengejar waktu turun gunung. Seperti pada kebiasaan naik gunung, turun tidak akan selama seperti mendaki, kita kembali ke camp dan segera packing alat-alat agar tidak terlalu malam sampai di Desa Pinaga kembali. Naiknya tiga hari, turunnya cuma 7 jam, itulah seni mendaki gunung hahahaha, walaupun akhirnya kaki kram dan nyeri-nyeri semua. Ditambah gue sempat kena bisa dari duri pohon yang beracun menyebabkan lengan kiri gue bentol-bentol dan terasa terbakar sekujur tangan bahkan bertahan hampir lebih seminggu, tidak apalah, kenang-kenangan pengalaman dari Gunung Talamau.

Ini bekasnya, padahal udah hampir 3 minggu, tapi gak ilang-ilang kadang masih berasa panasnya. Oh ini bukan kena daun Jelantang yaaa, Uda Ilham dan Uda Andri juga gak tau gue kena apa. Hahaha

Itulah sedikit cerita dari puncak tertinggi di tanah Minang. Terimakasih Tuhan atas nikmat ini.

Kalo mau lihat video perjalanan gue digunung ini, bisa click Disini Video nya HD dan ada beberapa sudut yang diambil pake drone, dan oh, Jangan lupa yaa follow instagram gue untuk tau kegiatan dan foto-foto perjalanan gue, simple, tinggal klik gambar instagram dibawah ini 😀

Schode Ilham Written by:

dengan membaca semua tulisan ini, kalian telah menelanjangiku bulat-bulat.

22 Comments

  1. hendisyahputra
    October 14, 2017
    Reply

    Terimakasih bang. Ikut hanyut dengan cerita bang odhe. smga suatu saat bisa menjejakkan kaki di tempat ini.

  2. RijalFajarS
    October 14, 2017
    Reply

    Mantap kak, ampe serius bacanya ..

  3. pak uyeeen
    October 14, 2017
    Reply

    I was never satisfied with your travel stories and I always liked that

  4. Dian
    October 16, 2017
    Reply

    Wow…luar biasa bget..makasih bny bg odhi atas tulisanny..terimakasih bny.sukses sell dan kami tgu kunjungan berikutny ke pasaman barat

  5. Eko Hariadi
    October 16, 2017
    Reply

    Thanks bro, saya seorang putra Pasaman Barat ucapkan salut atas kesempatan nya utk mengeksplorasi Gunung Talamau dan mmperkenalkan keluar, semoga perjalanan nya lancar dan sukses sll….

  6. October 16, 2017
    Reply

    Ikut terharu bacanya.. Apalagi pas nyampe puncak.. Jadi ikutan berkaca-kaca.. Haha.. Cerita yang inspiratif. Ditengah cerita banyaknya gunung dipenuhi sampah, baca gunung talimau ini berasa bersyukur banget bahwa tidak semua gunung fdi Indonesia ‘rusak’ terimakasih atas sharingnya mas!

  7. Yukiza
    October 17, 2017
    Reply

    Yang aku rasakan adalah merinding sekujur tubuh banggg gue juga mau mewek rasanya padahal nggak ada disituu 😭 terdahbestt bang odeeeeeee ❤

  8. Naana1704
    November 1, 2017
    Reply

    biangkeekkk gue baru baca! dan gue menyimpulkan kalo pendakian ke talamau menyebabkan lo agak religius akhir2 ini wkwkwkwkw

  9. sahabatkabut
    November 24, 2017
    Reply

    Makasih infonya bang Ode, masih penasaran dengan gunung ini, yg jadi pertanyaan saya, bang Ode masih mau lagi gak kesana? 😂

    • November 25, 2017
      Reply

      pertanyaannya sungguh sulit untuk dijawab hahaha, gue nunggu di basecamp aja deh yaaa bro haha

  10. December 8, 2017
    Reply

    I see you don’t monetize your blog, don’t waste your traffic,
    you can earn additional bucks every month because you’ve
    got hi quality content. If you want to know how to
    make extra money, search for: Boorfe’s tips best adsense alternative

  11. Dijong
    December 15, 2017
    Reply

    Tulisannya mengingatkan perjalanan ”berdarah-darah” saya ke Talamau yang sungguh luar biasa.

  12. rifqi afif
    December 18, 2017
    Reply

    terima kasih terlah bercerita tentang alam mingang kabau..karna saya pernah 2 kali ke talamau saya bisa bayangkan apa yang abang rasakan..jangan kapok ke tanah minang ya bang..hehehehe…

  13. December 26, 2017
    Reply

    Uwoooo, panjang juga ya perjalanannya. 3 hari mendaki, turunnya cuma 7 jam. Kebayanglah gimana cenat cenut itu kaki.

    Btw, nafas kamu lucu ya kak, terisak isak di paragraph pertama, hehe..

  14. rian
    January 12, 2018
    Reply

    keren bang ! malahan kami baru turun dari talamau kemaren bang ! berat memang kepuncak meskipun gue udah sering banget mendaki gunung di sumbar selain talamau apalagi bawa kawan yang baru perdana mendaki gunung, salut deh sama mereka yang baru perdana bisa langsung kepuncak 2 hari semalam tanpa guide logistic yang bisa dibilang kurang dan modal nekat yang kuat tapi badan pun langsung dibuat pegel hehehehe

  15. […] Sehari setelah pulang dari Kalimantan Selatan, gue langsung terbang ke Sumatera Barat. tujuan gue sebenarnya disini cuma satu, pengen banget ngedaki Gunung Talamau, sebagai Gunung tertinggi di Sumatera Barat, dan akhirnya menjadi gunung terberat yang pernah gue daki sejauh ini. Untuk membaca tentang perjalanan di gunung ini bisa kalian baca disini. […]

  16. Andy
    May 15, 2018
    Reply

    Maaf mau tanya punya nomor contact guide lokalnya? Terimakasih

  17. Maymay
    July 8, 2018
    Reply

    Mantapp, pengalaman yang luar biasa mas 💞

  18. Andy
    July 18, 2018
    Reply

    Gan mau tanya ada no telp uda Andri? Trims

    • July 18, 2018
      Reply

      Kan ada di dalam artikel mas Andy, coba di baca kembali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *