Gunung Papandayan kini; Wajahnya baru, pun begitu harganya. berapa yaa budgetnya? 

Oke! Baiklah. Setelah berpikir ulang, akhirnya gue memutuskan untuk menulis tentang Gunung Papandayan dengan wajah barunya. Ini juga sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang di Instagram gue. “Bang Sekarang Papandayan gimana?” “Bang, Masuknya sekarang bayar berapa?” “Bang dekat kawahnya sekarang ada pabrik ya?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang lama-lama kok semakin aneh-aneh hahahaha

Well, akan coba gue jawab semua melalui pengalaman gue setelah semenjak 4 Tahun yang lalu akhirnya bisa balik lagi ke gunung ini, yang tentu saja sudah sangat berubah. Perjalanan Papandayan kali ini secara keseluruhan ditanggung sama Awan Ethnic Craft, hehe asik yaa jadi gue, jalan-jalan dibayarin mulu hehe, tapi kalian juga bisa kok, yang penting, usaha dulu 😜. Jadi berapa mahalpun Papandayan sekarang, gak ngaruh buat gue karena gue dibayarin, tinggal bawa diri aja hahaha. Ini nih enaknya jadi travel influencer hehehe.Ini dia tim pendakian kemarin, mereka bertiga adalah CEO dan Founder dari Awanethnic Craft, kalo gue Komisarisnya wkwk, dari kiri ada si oncyom @awanikhwan, ada si ganteng @schode_ 😜, ada juga si cantik satu-satunya di pendakian ini @qqnurul, dan terakhir itu paling kanan yang foto aja pake jinjit segala biar keliatan 😂 @mistersuu. Click aja nama-nama mereka kalo mau langsung kenalan hehehe

Gue pertama kali ke Papandayan kalo gak salah ingat itu akhir 2013. Cara untuk sampai ke Papandayan pun sama, Naik bis dari Jakarta, turun di terminal Garut, carter angkot dari terminal, dan terakhir carter mobil bak untuk sampai ke basecamp Papandayan. Kondisi jalan dari pertigaan masjid sampai pintu basecamp (dengan mobil bak) itu luar biasa rusaknya. Penderitaan yang amat sangat untuk pantat yang langsung bertemu dengan besi-besi mobil bak huhu. Sekarang? Jalannya udah bagus banget! diaspal semua coy, jadi gak ada lagi tuh penderitaan tempo dulu hahaa. Parkiran dekat basecamp juga jadi semakin luas, dan warung-warung lebih tertata rapih. Semua nya sudah teraspal halus, bahkan jalan dari pintu masuk sampai pos pertama sebelum bertemu kawah, jalannya sudah di aspal, pertama kali gue dateng masih batu-batu semua.

Parkiran sekarang jauh lebih luas, dan didominasi dengan mobil-mobil pribadi, yaaa emang udah jadi tempat wisata keluarga sih haha. Kalo dulu, mikir dua kali lah untuk pake mobil pribadi, kondisi jalannya coy, amsyoonnggg
foto by; Liputan 6

Diujung sana itu pintu masuk jalur pendakian, semuanya sudah teraspal halus seperti pada gambar, yaa walaupun hanya sampai dekat dengan jalur menuju kawah, tapi lumayan juga lah.

Dulu tuh jalurnya masih batu-batu kaya gini, Lumayan sakit lah karena batunya banyak, plus runcing-runcing, kalo sekarang sih udah alus banget kek pantat bayi hahaha

Dan sekarang, jalurnya tuh udah banyak dibentuk tangga-tangga, jadi lumayan membantu para pendaki, apalagikan sekarang jadi tempat wisata, banyak juga yang dateng cuma seharian, dan gak camping, jadi cuma pulang pergi aja. Yaaa, namanya juga tempat wisata.

Ini penampilan Pondok Saladah saat ini, itu yang berbaris warna-warni bukan tenda yaaa, tapi warung. Iyaaa, sekarang banyak banget warung, dulu mah gak ada sama sekali, cuma ada satu tukang cilok pake gerobak pikul yang kalo sore juga pulang. Udah ada toilet yang sangat memanjakan para pendaki. Oh iya tenda juga keliatan dikit banget yaa, kalo dulu mah, bukan main banyaknya! Mungkin imbas dari mahalnya harga tiket masuk. Oh iya di area camp Pondok Saladah juga sudah jarang lagi terlihat pohon-pohon edelweiss, kayanya di tebang deh. Dulu masih banyak pohon Edelweiss yang tumbuh disekitar camp Pondok SaladahIni area camp Pondok Saladah 2013, masih terlihat pohon Edelweiss di sisi kanan gue. Sekarang kalo mau liat Edelweiss yaa harus ke Tegal Alun dulu yaaa hehe

Nah, kita bicarakan lebih detail tentang berapa uang yang harus kalian keluarkan, sekarang, kalo mau menikmati Papandayan. Kalo kalian memulai perjalanan dari Jakarta, berarti kita sama. Gue memilih untuk naik Bis Primajasa jurusan Lebak Bulus – Garut. Harga yang harus di bayar adalah 52.000 rupiah, berlaku sebaliknya. Jadi Ongkos Bis dari Jakarta ke Garut dan sebaliknya adalah 104.000. Dari terminal terakhir, kita masih harus mencarter mobil angkot sampai pertigaan masjid. Harga perorangnya adalah 25.000 rupiah. Jadi pulang pergi 50.000. Oh iya, siapin uang receh lima sampai sepuluh ribu, kadang akan ada yang minta uang untuk jasa ikat carrier diatas mobil angkot, kasih aja seikhlasnya. Sejauh ini, lo sudah menghabiskan uang sebanyak 154.000. Dari pertigaan masjid, lo masih harus mencarter mobil bak, dengan biaya maksimal 20.000 Rupiah perorang, Pulang Pergi jadi 40.000. Total sudah 194.000 ribu uang keluar untuk ongkos. Sampai di Pintu masuk Gunung Papandayan, kalian akan dimintai uang Simaksi. Untuk satu malam camping, dikenakan biaya 65.000 rupiah (satu malam) per orang. Berarti total uang yang harus dikeluarkan untuk bisa mengunjungi gunung ini adalah 259.000 rupiah untuk satu malam. Itu belum termasuk bawa-bawaan pribadi yaaa, logistik dan segala macamnya. kalo mau tambah hari kalian harus bayar 35.000 perorang. Tipsnya, kalo lo sampainya terlalu malam di basecamp, katakanlah jam 23.00 malam, lebih baik tunggu sampai jam 00.00 lebih sedikit, supaya sudah masuk hitungan hari baru, jadi kalo dateng hari jumat jam 23.00 lebih baik tunggu sampai jam 00.15 supaya sudah masuk hari sabtu, jadi kalian bisa pulang minggu siang. karena hitungan di Gunung Papandayan adalah Permalam, bukan perhari, kalo kalian daftar nya jam 23.00 di hari Jumat, besok sabtu sore jam 5 kalian sudah harus turun karena sudah habis waktunya. Ngerti kan? ngerti dong yaaa, kalo gak ngerti telepon aja deh, susah gue jelasin lewat tulisan hahaha.

Itu lah sedikit gambaran tentang Papandayan kini, banyak Pro dan Kontra, Negative juga Positive. Kalo lo tanya pendapat gue tentang hal ini, gue sih lebih banyak liat positifnya dari sudut pandang orang yang mencintai alam. Kenapa gitu? Pertama, kondisi Papandayan saat ini jauh lebih kondusif dari pada dulu pertama kali gue dateng kesini, gak ada tuh sekarang di pondok Saladah yang main gitar sampe tengah malam dan teriak-teriak gak jelas karena rombongannya banyak. Jalur juga gak terlalu ramai jadi gak banyak debu dan secara gak langsung juga gak merusak keadaan disekitar jalur (jalur gak jadi makin lebar, dan mengganggu vegetasi di kanan kiri jalur). Bayangin deh, dulu, setiap weekend itu pengunjung Papandayan bisa sampai 2000 pendaki, sekarang, paling banyak paling 200-300 pendaki (data dari bapak-bapak salah satu pemilik Warung di Pondok Saladah yang juga sekaligus petugas di areal camp Saladah). Kedua, Gunung ini lebih tertata dan lebih bersih! Serius, dengan berkurangnya jumlah pengunjung, menurut gue juga berimbas dari kuantitas sampah yang ada di gunung ini, serius Papandayan bersih banget! Ditambah, sekarang sudah banyak warga yang berjaga di setiap pos di Papandayan, yang membuat kita juga merasa diawasi dan bisa bertanya apapun ketika bingung atau butuh informasi sembari beristirahat di pos-pos yang disediakan. Menurut info yang gue dapat, masyarakat yang bertugas di Papandayan sekarang mendapat gaji bulanan, jadi yaa lebih menjamin hidup mereka lah yaa, dari pada cuma berpangku tangan menunggu pesanan untuk menjadi porter. Ketiga, fasilitas di Gunung Papandayan berubah drastis. Ini sih yang paling berasa dari berubahnya harga. Akses jalan dari masjid yang rusak parah, sekarang sudah 90% diperbaiki, lahan parkir jadi lebih besar 100% dan tertata rapih, jalur pendakian pun dibuat sangat memanjakan para pendaki maupun yang hanya berwisata disekitar kawah, dibuatkan tangga-tangga alami, dan jalur baru yang memotong melalui Hutan mati. Oh, Warung-Warung yang berjualan juga semakin banyak sekarang, dan warga yang berjualan disini tidak dikenakan biaya oleh pengelola, karena mereka memang warga sekitar yang punya hak atas bertumbuhnya potensi daerah mereka, gue rasa ini cukup bijaksana.

Jadi, yaa menurut gue positif sih. Sekarang kita berpikir kebalikannya, seandainya Papandayan ini tidak diambil alih oleh swasta, memang jauh lebih murah harganya, tapi jumlah pengunjung sangatlah banyak, katakanlah jika harganya hanya 7000 rupiah untuk simaksi dikalikan 2000 orang sekali mendaki, tentu angka yang didapatkan juga besar, mungkin akan sama dengan pendapatan sekarang yang 65.000 rupiah dikalikan 200 pengunjung. Tapi apakah infrastruktur disana akan berkembang? Atau begitu-begitu saja terus? Akses rusak, gunung ramai, berimbas pada kondisi gunung yang tidak kondusif, sampah yang menumpuk dan hal-hal lain sebagainya. Rasanya lebih bijaksana keadaan sekarang. Kita perlu menjaga gunung, agar tetap lestari sampai anak cucu kita kelak merasakannya. Kerugiannya rasanya hanya karena gunung ini ‘diswastakan’ tapi selama swasta ini bertanggung jawab rasanya tidak apa-apa, toh ketika dikelola oleh Pemerintah juga tidak dijaga, yang ada malah rusak, maaf bukan saya tidak nasionalis, tapi lebih kepada kecintaan saya terhadap alam yang adalah warisan yang harus dijaga. Semoga ini malah dijadikan pelajaran bagi Pemerintah untuk tegas menjaga alamnya! Sebagai contoh saja, gue sih sedih banget ngeliat Gunung Rinjani, gunung terindah didunia menurut gue, tapi juga adalah gunung paling kotor yang pernah gue kunjungi. Ayo tegas lah Pemerintah, kalo memang tidak bisa melakukan itu, apa perlu pihak swasta yang melakukannya? Apa perlu ke Rinjani naik gondola seperti wacana wacana yang beredar? Kalo gue sih gak bisa gak setuju kalo itu adalah satu-satunya cara menjaga gunung indah Rinjani, walaupun sedih juga…..

Ah sudah lah, gak usah terlalu serius hehe. yang penting niat baik untuk menjaga alam kita yang indah ini timbul dari diri kita sendiri, kalo semuanya berpikir tentang menjaga, niscaya alam kita akan lestari, terus sebar kecintaan kita terhadap negeri ini dengan saling mengingatkan untuk memeliharanya. Dan terimakasih sudah selalu membaca tulisan gue ☺️

Oh iya kalo mau nonton video gue pake drone di Papandayan, click Disini yaaa 😁

Hutan Mati, tempat paling eksotis di Gunung ini.

Tegal Alun, tempat bersemayamnya jutaan Edelweiss, sang bunga abadi.

Schode Ilham Written by:

dengan membaca semua tulisan ini, kalian telah menelanjangiku bulat-bulat.

11 Comments

  1. Alif ananda
    September 17, 2017
    Reply

    Keren 😍

  2. September 17, 2017
    Reply

    Ya ampyuuunnn idola gueehhh sepanjang masaa😍😍😄 ((buncit))😍😍✨✨

  3. September 17, 2017
    Reply

    Ya ampyuuunnn idola gueehhh sepanjang masaa😍😍😄 ((buncit))😍😍✨✨ ternyata dulu sempet kururs.

  4. YukiZairina
    September 18, 2017
    Reply

    Merinding pas baca hampir end 👌

    • October 10, 2017
      Reply

      hehehe terimakasih sudah membaca sampai selesai

  5. October 3, 2017
    Reply

    Oh iya bang satu lagi yang bikin Papandayan oke adalah pelayanannya. Bulan lalu gw nanjak terus cidera kaki, bapak satpam yang jaga di pos 7 langsung nganterin gw turun ke basecamp pake ojek gunung dan sampe di basecamp kaki diurut sama ahlinya, semuanya gratis (biaya diganti perusahaan karena simaksi ada asuransinya).

    • October 10, 2017
      Reply

      mantap tambahan infonya broo! semoga semua gunung punya pelayanan yang sama entah di kelola oleh negara atau swasta yaa hehe waktunya berbenah!

  6. Ain
    December 22, 2017
    Reply

    Kereenn Bang..

    Poto ke-2 terahirnya..
    Beneran Erotis..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *