Terimaksih Borneo orangutan survival foundation dan Teruslah bantu kami selamatkan Orangutan.

Merinding!! Itulah perasaan yang saya rasakan ketika mendengar cerita dari Mbak Lisa, salah seorang pemandu yang mengabdikan dirinya untuk aktif melestarikan hewan endemis Indonesia, Orangutan. Belum pernah saya menulis sampai mengeluarkan air mata seperti ini. Bagaimana bisa biasa saja ketika mendengar penjelasan-penjelasan dari Mbak Lisa tentang kenapa Orangutan bisa dan harus direhabilitas di BOSF Samboja Lestari, Kutai Kartanegara ini.

“Seluruh Orangutan disini kami selamatkan dalam keadaaan yang sangat memprihatinkan. Hampir semuanya sudah tidak memiliki forestskill atau insting hewaninya. Ada yang sebelumnya sebagai peliharaan pribadi, ada yang berhasil kami tangkap dari pasar gelap, ada juga yang sebelumnya sebagai pekerja Sirkus, dan parahnya lagi, ada Orangutan yang kami selamatkan dari tempat pelacuran, yaa, Orangutan ini dipekerjakan sebagai Pekerja Seks Komersial untuk memuaskan hasrat para lelaki hidung belang”

SINTING!! Bagaimana bisa??? Mau marah rasanya. Orangutan itu bernama Pony, sayangnya dia tidak direhabilitas di BOSF Samboja Lestari, Pony berada di BOSF Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, karena lebih dekat dari tempat ia diselamatkan.

Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), adalah sebuah badan konservasi Orangutan yang telah berdiri semenjak 1991. Bekerjasama dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kementrian Kehutanan RI, BOSF gencar mengkampanyekan penyelamatan Orangutan dan kemudian merehabilitasi mereka agar kembali bisa dilepas-liarkan sebagai layaknya seekor hewan. Selain hewan ini dilindungi, ternyata Orangutan sangat penting keberadaanya karena ia adalah Umbrella Species. Kenapa disebut Umbrella Species? Keseimbangan ekosistem hutan sedikit banyak juga terjadi karena campur tangan Orangutan yang diketahui juga sebagai penyebar biji-bijian. Jadi sangat disayangkan jika sampai Orangutan semakin sulit ditemukan di dalam Hutan.

BOSF Samboja Lestari ini tidak hanya merehabilitasi Orangutan, tapi ada juga Beruang Madu. Sama hal nya dengan Orangutan, mereka semua sebelumnya adalah peliharaan pribadi atau pekerja sirkus.

Sebenarnya kami datang agak terlambat, setiap jam 3 sore selalu ada prosesi feeding, dan kami telat beberapa menit. Sayang tidak bisa melihat proses memberi makan Orangutan. Jadi kami hanya bisa melihat aktivitas mereka menjelang petang.

Kalau saya tidak salah ingat namanya adalah Pak Patrick, Orang Perancis yang rela tinggal jauh dari negaranya, rela menanggalkan segala apapun yang ia punya, Gemerlap perkotaan, dan kehidupan layak lainnya. Ia tinggal disini, ditempat rehabilitasi BOSF Samboja Lestari. Sore itu kami bertemu Pak Patrick, Pakaiannya lusuh, pun begitu badannya yang terlihat kurus. Tapi Ia begitu luar biasa, rela meninggalkan dunianya demi menjadi penyelamat Orangutan, yang juga mahluk hidup ciptaan Tuhan. Entah, saya malu sekali ketika bertemu dengan Pak Patrick, dia bukan warga negara Indonesia, dia jauh dari sebrang benua, tapi yang dia lakukan sungguh menyayat hati, dimana isi kepala orang-orang yang dengan keji merusak tanahnya sendiri?

Pak Patrick hanya tersenyum tipis ketika kami sapa, hanya berkata “hai” tanpa panjang lebar, padahal Mbak Lisa bilang Ia lancar berbahasa Indonesia. Mungkin ada kekecewaan dalam diri Pak Patrick atas segala hal yang terjadi terhadap Orangutan di Kalimantan ini, lumrah saja rasanya, ini semua terjadi juga sedikit banyak karena masyarakat lokal, dan saya juga berpikir kemana orang-orang pribumi sampai-sampai warga asing yang ambil bagian untuk menyelamatkan Orangutan, ah semoga ini hanya prespektif dangkal ku saja. Terimakasih atas dedikasi tingginya Pak Patrick, Tuhan memberkati.

Setelah mendengarkan seluruh penjelasan dari Mbak Lisa, kami segera beranjak untuk melihat langsung habitat buatan tempat tinggal Orangutan di BOSF Samboja Lestari ini. Tempat yang kami kunjungi ini namanya Pulau 6.

BOSF mengelola tujuh pulau sebagai ‘kandang’ pra pelepasliaran. Bedanya, kandang disini tidak dikelilingi dengan jeruji besi atau penghalang apapun, kesemua pulau dikemas mendekati kondisi hutan sebenarnya. Di pulau-pulau ini, Orangutan akan merasakan seperti hidup di hutan terbuka, agar tidak melarikan diri, Pulau ini di kelilingi sungai yang dalamnya sekitar 3-5 meter. Orangutan tidak bisa berenang, kata Mbak Lisa. Para pengawas bisa memantau kemajuan dan adaptasi Orangutan, serta mengetahui potensi Orangutan untuk dilepas-liarkan kembali ke Hutan. Tapi sayangnya Pulau 6 ini adalah kadang untuk Orangutan yang takkan dilepas-liarkan ke habitat aslinya di hutan.

“Bagaimana bisa?” Banyak hal yang menjadi penyebab Orangutan tidak dapat dirilis kembali ke Hutan, biasanya karena mereka mengidap penyakit, seperti TBC atau hepatitis, yaa, Orangutan memiliki kesamaan DNA dengan manusia hampir sebesar 98%, jadi sangat memungkinkan penyakit ini akan menular, bahkan ke manusia. Selain itu, cacat mental, dan cacat fisik juga menjadi alasan kenapa Orangutan tidak dapat dirilis.

Cerita menyedihkan ini hadir didepan mata kami. Disebrang tempat kami berdiri, terdapat seekor Orangutan bernama Ani sedang duduk terdiam disela-sela ilalang, tanpa aktivitas apapun. Pandangannya sungguh kosong. Saya bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang terjadi pada Ani, penyakit apa yang mengidap didalam tubuhnya sampai ia terlihat sefrustasi ini.

“Kadang Ani akan duduk seperti itu sepanjang hari. Sambil sesekali melihat pengunjung dengan tatapan hampa, lalu kembali menunduk. Dia kami selamatkan semenjak bayi, waktu kami selamatkan keadaanya juga baik, tepat dipelukan ibunya yang mati tertembak oleh manusia. Dia mengalami trauma yang mendalam akibat hal itu, hingga sampai saat ini, sampai akhirnya ia tidak bisa kami kembalikan ke Hutan” ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”

Astagah! Saya sampai harus beberapa kali menghela napas ketika mendengar cerita Mbak Lisa. Setragis itu kah????Tidak sayang, kami tidak jahat seperti mereka, ayo lekas sembuh, kamu lebih pantas tinggal di hutan yang sebenarnya.โ˜บ๏ธ

Selain Ani, di pulau 6 ini ada lagi seekor Orangutan bernama Bujang, yang juga tidak bisa dirilis ke hutan. Serupa Ani, Bujang memiliki Cacat Mental, Ia begitu menyerupai manusia. Bujang diselamatkan ke BOSF Samboja Lestari dari tempat sebelumnya di arena sirkus. Entah apa yang telah diperlakukan kepada Bujang selama ia dipekerjakan sebagai pemain sirkus. Ia hanya mau makan Nasi, Berjalan dengan dua kaki layaknya manusia, dan tidak tertarik pada Orangutan betina. Betul, ia hanya suka manusia (perempuan) apalagi jika rambutnya panjang dan berwarna pirang. Saat kami melihatnya diujung sebrang pulau 6, Ia tampak bersembunyi, sesekali menarik dahan-dahan pohon dikanan-kirinya tanda Ia tidak suka di tonton, mungkin sebuah isyarat untuk menyampaikan pesan bahwa Ia sudah bukan lagi olok-olok di arena sirkus ๐Ÿ˜ข.

“Coba yang laki-laki pergi dulu, biarkan yang perempuan yang ada dihadapan Bujang” ujar Mbak Lisa. “Biasanya Ia akan lebih menunjukan diri, bahkan bisa sampai terangsang”.ย 

Betul saja! Bujang bereaksi seperti apa yang dikatakan Mbak Lisa. Ia menampakan diri dan keluar dari persembunyiannya.Bujang yang bersembunyi dan terlihat tidak nyaman ketika awal kami datang beramai-ramai.

Bujang dengan bulu-bulu halus dan panjang nan eksotis. Ia mulai keluar dari persembunyiaan setelah melihat Kak Yuki dan Kak Griska ditengah-tengah rombongan kami.

Bujang yang berjalan dengan dua kaki layaknya manusia ๐Ÿ˜ข

Semua ini benar-benar membuat saya tersentuh, begitu bejatkah manusia, begitu tidak berperasaankah mereka sampai-sampai membuat mahluk hidup lain serasa tidak ada artinya? Entah sampai kapan penderitaan ini akan terus Bujang dan Ani rasakan. Sampai mati nanti, mereka berdua hanya akan ada di Pulau yang tidak cukup besar untuk habitat Orangutan ini.

Pertemuan ku dengan Bujang dan Ani menyadarkan ku bahwa hidup ini bukan hanya tentang kebahagiaan diri sendiri. Ada Mbak Lisa, Pak Patrick dan teman-teman lain dengan dedikasinya yang tinggi mau berbagi kehidupan dengan Orangutan yang bahkan seperti hidup segan mati tak mau, mereka seperti memberikan nyawa bagi Bujang dan Ani, bahkan ratusan Orangutan lainnya yang dikarantina di BOSF Samboja Lestari ini. Dengan seluruh kerendahan hati, saya haturkan terimakasih setinggi dan sebesar-besarnya, doa saya semoga kalian semua sehat selalu.

Perjumpaan dengan Ani dan Bujang sudah harus kami sudahi, Lambaian tanganku memang tidak berbalas dari mereka, harapan sederhana saya hanyalah agar Bujang dan Ani menikmati hari-harinya seumur hidup disini, semoga penyebab dari keadaan kalian ini mendapatkan ganjaran yang setimpal. AMIN!!! Peluk dan cium ku untuk Ani dan Bujang, terimakasih sudah membuat kedua bola mataku begitu berkeringat โ˜บ๏ธ๐Ÿ’™


Terima kasih juga untuk kalian yang sudah membaca, semoga kalian juga merasakan apa yang saya rasakan.

Schode Ilham Written by:

dengan membaca semua tulisan ini, kalian telah menelanjangiku bulat-bulat.

8 Comments

  1. August 25, 2017
    Reply

    Artikel keren de..ceritanya menyentuh dan informatif tentunya. ๐Ÿ™๐Ÿ‘โญโญโญโญโญ

  2. Fadel ceperist
    August 25, 2017
    Reply

    Smoga mereka yg menyiksa bujang,ani dan orang hutan lain nya mendapatkan ganjaran yg setimpal.

  3. Hendisyahputra
    August 25, 2017
    Reply

    Begitulah keadaan umat akhir zaman..

  4. August 25, 2017
    Reply

    Bulu si bujang beneran eksotis rasanya mau peluk๐Ÿ˜

  5. Nanda
    August 25, 2017
    Reply

    Aku juga punya temen yg kerja d tempat konservasi orang utan d jogja ka, dia kalo cerita ttg orang utan ampe emosi”, aku gemes juga. Dia cerita ada orang utan yg d bunuh gara2 dibilang “mencuri” kelapa sawit, setelah dibunuh di makan bareng2. Menyedihkan banget. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

  6. ain_amush
    August 25, 2017
    Reply

    Keren kak..

    Meskipun aku udah gak meneteskan air mata lagi..

    Udah habis dari kemarin2..

    Aku share ya kak.. Ku gaperlu ijin ya..

  7. pak_uyeen
    August 25, 2017
    Reply

    Aku jugo masih bujang ๐Ÿ˜‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *