Seharian Menyusuri Sungai Mahakam; Ada Jembatan Terpanjang di Indonesia, Kerbau Rawa, Desa Terapung, Sampai Lumba-Lumba Air Tawar. 

Setelah melewati malam yang luar biasa dari Keraton Kutai Kartanegara, kami semua kembali ke The Hotel yang fenomenal ini (baca cerita sebelumnya disini). Mas Ain kemudian mewanti-wanti “ingat yaaa, besok kita harus bangun pagi-pagi betul, jam 5 pagi semua harus sudah ready, karena besok kita akan menjelajah dan menyusuri Sungai Mahakam“. Wohhhoooooo! Serius mau menyusuri Sungai Mahakam yang panjang itu? Ah ini kesempatan langka banget! Soalnya kita kaya akan seharian menyusuri Sungai Mahakam, karena bukan sekedar susur sungai, tapi kita akan mencari Pesut, IYA PESUT!, yang gue pikir cuma legenda atau tinggal cerita aja.

Lumba-Lumba air tawar yang cuma ada di Sungai Mahakam ini memang dinyatakan sebagai hewan yang terancam punah. Bayangkan saja, hanya tersisa 75 ekor Pesut di Sungai Mahakam yang memiliki panjang 980 Km ini. Apa mungkin kita bisa nemuin mereka 😌? Tapi optimis aja lah, tujuan kita juga baik kok, pasti dikasih hasil yang baik juga, amin.

Pesut, atau yang juga dikenal dengan sebutan Irrawaddy Dolphin ini menempati urutan tertinggi satwa terancam punah di Indonesia. Uniknya, mamalia air yang satu ini sangat berbeda dari amalia air lainnya sebut saja lumba-lumba dan paus yang hidup di laut, Pesut hidup di air tawar. Lumba-lumba di air tawar? luar biasa memang Indonesia. Di Indonesia, satwa super langka ini hanya hidup di sungai Mahakam dan dapat juga di temukan di dua wilayah lain di luar Indonesia seperti di Sungai Mekong dan Sungai Irawady. Dalam keadaan yang terus terancam, acap kali Pesut terlihat berada di daerah aliran sungai di Kecamatan Kotabangun, Kutai Kartanegara, oleh sebab itu, tujuan kami adalah Kotabangun ini, harapannya, kami bisa berjumpa dengan satwa yang mungkin dalam beberapa dasawarsa kedepan, populasinya bisa saja terus berkurang. Ehhhhh! Tapi jangan sampai yaaa! Anak Cucu gue juga harus bisa liat Pesut yang menjadi satwa khas Pulau Kalimantan ini. aminnnnn!

Jam 5 pagi kami semua akhirnya benar-benar sudah berkumpul dan tidak sabar lagi untuk segera sampai ke Kotabangun. Sebelum memulai perjalanan yang kurang lebih akan memakan waktu 2 jam, kami mampir sejenak di sebuah rumah makan sederhana yang menjual makanan khas Kalimantan Timur, Yak! Nasi Kuning! Berasa ada yang ulang tahun kalo makan Nasi kuning hahaha. Nasi Kuning memang adalah salah satu makanan khas di Kalimantan Timur.

Ditengah-tengah menikmati santap sarapan, datang seorang pemuda yang Mbak Nina bilang adalah orang yang akan mengantar kita dan membimbing serta memberikan arahan ataupun cerita-cerita mengenai Sungai Mahakam dan tentunya tentang Pesut. Bang Inal namanya, pemuda yang sangat aktif dalam menyuarakan keselamatan dan pelestarian Pesut juga tentunya Sungai Mahakam. Wah mantap Bang Inal! gue bakal banyak nanya-nanya nih sama lo hehe

Setelah menempuh perjalan panjang, akhirnya kami sampai di Kotabangun, dan sudah bersiap untuk menelusuri Sungai Mahakam dengan tujuan utama bertemu dengan sang legendaris Pesut Mahakam. Sebelumnya Bang Inal memberikan briefing singkat tentang perjalanan hari ini serta meminta kami sejenak berdoa bersama agar tujuan kami bertemu dengan Pesut bisa terwujud, Yaaa kembali lagi, di sungai Mahakam yang begitu besar ini sulit rasanya bisa menemukan aktivitas Pesut yang jumlahnya haya tersisa 75 ekor, tapi tidak ada salahnya berdoa, karena kembali lagi semua adalah restu Tuhan, Berdoa mulai!

“Pertama kita akan mencoba mencari aktivitas Pesut disekitar Sungai di Kotabangun ini, lalu Jika tidak bertemu disini, kita akan mencoba mencari sampai ke sekitar Danau Semayang, Jika tidak juga ada aktivitas, kita akan cari lagi di sekitar Danau Melintang, Waktu tempuh dari Kotabangun ini sampai ke Danau Melintang adalah Tujuh jam, dan disana kita akan istiraht sejenak di Sebuah desa terapung di tengah-tengah Danau Melintang”. Dengan penuh Informatif Bang Inal menyampaikan hal-hal tersebut kepada kami. Ternyata Asik juga yaa, ditengah-tengah mencari Pesut, kita bisa mampir ke Desa Terapung yang juga khas di Kalimantan. Gue makin gak sabar!Sebagai informasi, untuk bisa menelusuri Sungai Mahakam, kita harus menyewa jasa kapal kayu ini, normalnya akan dikenakan biaya sebesar 650rb rupiah selama susur sungai, oh iya, kapasitas satu kapal hanya bisa 8 orang yaaa. Karena kami total 14 orang (bersama bapak supir kapal) jadi kita menggunakan 2 kapal untuk menelusuri Sungai Mahakam ini. Yuk Kita mulai!

Kapal sebelah hanya berisi 6 orang, udah kaya liburan keluarga lah, bapak-ibu dan tiga anaknya hahahaha

Gue TERPERANDJAD!. Ditengah-tengah menyusuri Sungai Mahakam, kapal kami sempat melewati sebuah jembatan besi yang terlihat sangat panjang, sontak gue pun bertanya ke Bang Inal “Bang ini jembatan apa? kok panjang banget???” “oh iya de, ini jembatan terpanjang di Kalimantan, namanya Jembatan Martadipura. Jembatan ini menghubungkan Kotabangun ke Desa Sebelimbingan di Kembang Janggut” Gue sih sempat gak yakin kalo jembatan ini cuma terpanjang di Kalimantan, dan setelah browsing ternyata benar saja, jembatan ini adalah JEMBATAN TERPANJANG DI INDONESIA!!! Menurut data Dinas Bina Marga dan Sumber daya Air (DBMSDA) Kutai Kartanegara, Jembatan Martadipura memiliki panjang 15,3 km, 3 kali lipat dari panjang Jembatan Suramadu yang memiliki panjang 5,4 kilometer. Nambah lagi deh cerita gue! Kapan lagi bisa jadi saksi dan melihat langsung jembatan terpanjang di Indonesia. Huhuhu, sungguh terlalu, eh terharu.

Sedihnya, sudah menjelajah selama dua jam, Pesut belum juga kami temukan, ditambah panas terik menjelang tengah hari membuat kita makin loyo. Tapi ada aja lah fenomena-fenomena menarik yang terjadi di atas sungai Mahakam ini, yang bikin gue agak geleng-geleng kepala.Ini super unik menurut gue, biasanya truck-truck kan lewat jalur darat (yaa emang gak pernah ada yang bisa berenang sih) tapi di Kalimantan ini, gue berkali-kali liat truck ada di atas kapal, masa iya karena mogok? nggak mungkin sih, memang luar biasa Pulau Seribu Sungai ini.Liat gak ini apa? iya guys, itu Kapal Tongkang, dan iya juga guys, ini masih diatas Sungai Mahakam, biasanya kita liat kapal kaya gini di laut, tapi ini, di sungai….Liat nih muatannya, iyaaa, segede gitu. Tau gak apa yang gue pikirin? apa kapal segede gini gak mengganggu habitat pesut dibawah sungai ini yaa? Apakah ini salah satu penyebab makin berkurangnya populasi Pesut di Sungai Mahakam? 😢

“Jembatan Kentang” kenapa jembatan kentang? yaa karena jembatan ini belum ada nama resminya, kenapa kentang dan belum ada nama resminya? yaa karena jembatan ini belum jadi, cuma ada tengahnya ini aja, gak ada terusannya lagi alias buntu alias putus, proyeknya mandek dan terkesan dibiarkan a.k.a terbengkalai, apa ada korupsi dibalik ini, entah lah….. Padahal cantik loh jembatannya, eeee tapi tapi, kenapa jembatan di Kutai ini banyak yang warnanya kuning yaa? ada yang bisa bantu jawab? 😁Sumpah ini bukan di Laut, ini masih di Sungai Mahakam menuju Desa Melintang. Gila luas banget ini sungai! Benar-benar berasa di Laut.

Nahlo itu ada apa lagi sih??? coba-coba pak merapat kesana sebentar!Namanya Kandang Lanting, kandang yang mengapung diatas sungai/rawa. Tempat ini adalah tempat tinggal dari Kerbau Kalang atau Kerbau Rawa yang memiliki nama ilmiah Bubalus bubalis. Kerbau ini sebetulnya sama saja dengan kerbau gembala pada umumnya, hanya saja Kerbau Kalang sudah sejak lama dan secara turun temurun beradaptasi dengan lingkungan rawa-rawa. Jadi Kerbau ini sudah biasa berenang untuk mencari makan sendiri. UNIK!!!!!!

Setelah selesai bermain di Kandang Lanting bersama Kerbau Kalang, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Melintang. Desa Terapung ini benar-benar mengapung diatas sungai loh, karena benar-benar tidak ada tanah yang melandasinya. Sudah begitu, desa ini lumayan jauh dari daratan terdekat, kurang lebih membutuhkan waktu 2-3 jam dengan kapal kayu untuk bisa sampai ke kota daratan terdekat.Ini lah Desa Melintang diambil menggunakan Drone. Benar-benar Mengapung!

Penduduk Desa Melintang ini umunya berprofesi sebagai nelayan, jadi sudah tentu mata pencahariannya adalah berjualan ikan khususnya ikan yang sudah di olah menjadi ikan asin, dan beginilah keseruan ketika gue mencoba seolah-olah menjadi pengusaha ikan asin di Desa MelintangCocok gak guys? hahaha kalo lama-lama disini, pasti gue akan sama keringnya kaya ikan asin yang di jemur hehehenah kalo ini baru deh penjual yang beneran hehehe Semangat selalu yaa pak!Dan ini si Ikan Asin, gue akhirnya beli satu kardus buat dibawa ke Jakarta, abis, kalo liat ikan asin, gue selalu keingetan emak dirumah hahaha

Selesai bersilaturahmi di Desa Melintang, kami melanjutkan perjalanan. Setelah kurang lebih satu jam, kita sampai disebuah desa ditengah Sungai Mahakam, namanya Muara Muntai. Disini kita akan sejenak beristirahat dan makan siang, sembari berkeliling sebentar. Beginilah tampak Desa Muara MuntaiHampir 99% rumah di Muara muntai ini adalah rumah panggung, dan jalannya pun jalan semi permanen dari kayu yang juga tidak menempel pada tanah, mungkin lebih mirip dibilang jembatan, karena tanahnya memang tanah gambut. Kalo ada motor yang lewat, berisik banget huhuhu

Akhirnya jam 1 siang kita memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan, karena untuk sampai kembali ke Kotabangun masih memerlukan waktu dua jam. Semoga dalam perjalanan pulang kami masih bisa bertemu dengan Pesut 🙇🏽🙇🏽🙇🏽

Tiba-tiba Bang Inal berteriak dari belakang, “itu ada Pesut muncul kepermukaan!” sontak gue langsung berdiri dan keluar keujung kapal. BENER AJA DONG! itu ada lebih dari dua Pesut yang keluar bergantian untuk mengambil napas! “Pak kejar pak! agak mendekat” minta gue dengan penuh semangat. Wiihhhhhhh!!! Pesut nya banyaaakkkkkk! Tapi susah juga untuk ambil gambarnya karena gak ketebak kapan dia akan keluar dan dari sebelah mana. Pesut tampak malu-malu tapi seakan meledek kami untuk bisa mengambil gambar mereka. Pesut ini keluar mungkin hanya beberapa detik dan hanya menimbulkan kepala sampai sirip tengahnya saja, maka dari itu susah sekali mendapatkan gambar utuhnya, terlebih gue cuma pake kamera mirrorless standard tanpa tambahan lensa apapun. Dari hampir berapa ratus kali mencoba mengambil gambar, hanya beberapa foto yang berhasil, itu pun tidak terlalu jelas, tapi apa yang di tangkap oleh mata langsung benar-benar luar biasa, gue rasanya mau lompat ke air dan berenang bareng mereka. Gila senang banget! sampe teriak-teriak kegirangan gini gue! Mashallah, betapa beruntungnya kami bisa ketemu mereka menjelang pulang ke Kotabangun. Melihat langsung Hewan paling terancam punah di Indonesia, menjelang senja. terimakasih terimakasih! alhamdulillah! Pesut yang mengeluarkan air dari dalam badannya, membuncah ke udara~Terlihat kepala sampai mata sebelah kiri dari Pesut Mahakam, duh! gemas sekali!!!Dari ratusan foto yang kami ambil, rasanya ini yang paling jelas, Pesut yang setengah melompat, seperti mengajak kami bermain-main dengan ramahnya. Sedih rasanya, ditengah-tengah terancam punah yang juga sedikit banyak karena ulah manusia, mereka masih mau menampakan diri kepada kami, dengan ramahnya seperti mengajak bermain di tenangnya habitat mereka, Sungai Mahakam. LESTARI SELALU PESUT KU SAYANG! 

Setelah hampir dua jam melihat atraksi Pesut Mahakam, mereka tiba-tiba hilang begitu saja tanpa jejak, tidak menampaki lagi tubuhnya yang berkilau dibawah matahari senja. Gue puas, tapi sedih juga. Apa mungkin di waktu yang lain gue masih bisa ketemu sama mereka? hmm semoga saja, Tuhan paling tau yang terbaik. Semoga terus berkembang biak sayang!

Akhirnya kami kembali ke Kotabangun, senyum terus merekah tanda begitu puas nya hari ini! Lagi-lagi, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Kami sangat bahagia seperti anak-anak ini yang begitu bahagia Foto atau momen mahal hasil Jepretan Joey alias @ranselusang dari tepi sungai Mahakam, Kotabangun, rajin belajar yaa dek, supaya bisa memajukan daerah mu, dan jangan lupa tetap bersahabat dengan alam mu yang indah ini.Kami yang 1000000000% bahagia sore itu. Oh iya, Bang Inal itu yang paling kanan dengan baju putih, kalo kalian mau menyusuri sungai Mahakam dan bertemu dengan Pesut silahkan hubungin bang Inal, bisa melalui instagram di @innalrahman

Dan terakhir, terimakasih sudah membaca, semoga kalian semakin bersemangat membantu negeri ini untuk memperkenalkan keindahan, kecantikan serta keunikannya yaa. BANGGA JADI BANGSA INDONESIA!

Schode Ilham Written by:

dengan membaca semua tulisan ini, kalian telah menelanjangiku bulat-bulat.

5 Comments

  1. Irwan
    August 17, 2017
    Reply

    Harus kesini kynya, keep on inspiring ode 👍

  2. August 17, 2017
    Reply

    Gue bangga!!😍😍 makasih pak CEO akuuhh😘💋💖😂

  3. Lalubibin
    August 17, 2017
    Reply

    Luu kemana Asmaaaaa… ?
    Jangan Ninggalin Karyamu yg masih di tunggu orang banyak…!
    Termasuk saya

  4. Lalubibin
    August 17, 2017
    Reply

    Jangan Ninggalin KaryaLuu yg masih di tunggu orang banyaak….!!
    Teruntuk bagi saya.

  5. […] Ini Lumba-lumba air tawar atau Pesut yang gue ceritain, beruntung banget bisa ngeliat mereka langsung. Kenapa begitu? Kita susur Sungai Mahakam yang super panjang ini dari pagi coy, dan baru berhasil ngeliat mereka di jalan pulang menjelang Petang. Dan tau gak, disungai Mahakam yang panjangnya kurang lebih 900 KM, hanya tersisa kurang lebih 70 Pesut :((((((( Semoga anak cucu gue bisa ngeliat mereka gak cuma di poster atau acara-acara TV yaa, dan semoga masyarakat sekitar serta pemerintah juga mengupayakan agar Pesut tidak punah. AMIN!! untuk tulisan tentang Pesut dan sungai Mahakam, kalian bisa baca disini […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *