Jalur Pendakian Gunung Prau Via Patak Banteng, penerapan pendakian dengan metode ultralight hiking

Pertengahan Mei kemarin, gue dan beberapa teman dari #KawanEtnik melakukan sebuah roadtrip selama kurang lebih satu minggu dalam rangka roadshow, bersilaturhami dengan #KawanEtnik yang berada di wilayah-wilayah Jawa Tengah, khususnya, Purwokerto, Kebumen, Wonosobo, Banjarnegara, dan tujuan akhir Jogjakarta.

Sudah pasti, Roadshow ini juga akan berbalut liburan singkat, dengan mampir-mampir sejenak ke lokasi wisata di kota yang kami sambangi hehehe, Sambil menyelam, makan salmon 😂. Kita sempat mampir kesebuah Desa asri diatas bukit yang juga adalah kampung halaman dari salah satu tim roadtrip kali ini, yaitu si unyil alias Raradiera.

Dari Jakarta, kita memulai perjalanan dini hari, dan sampai di Purwokerto untuk mampir diKampung-halaman Rara sekitar pukul 11 siang. Disana kita istirahat sejenak, melepas penat dan sedikit menikmati tenangnya desa diatas bukit, sangat mendamaikan~. Malam harinya kami sudah memiliki agenda untuk bertemu dengan #KawanEtnik di Purwokerto. selepas acara di Purwokerto, kami mampir ke Kebumen, kota tetangga, dan disana kami juga menyempatkan diri untuk menikmati pantai-pantai eksotis Samudra Hindia di selatan provinsi Jawa Tengah ini, tapi, akan gue ceritakan nanti yaaa, sekarang kita lanjut jalan ke Wonosobo.

Setelah bermalam di Pinggir pantai, dan menikmati semudera sejauh mata memandang, kami melanjutkan perjalanan ke Wonosobo, sampai di Wonosobo malam hari, dan kita memutuskan untuk istirahat sejenak di  Basecamp Patak Banteng, Dieng. Rencananya kita akan menikmati sunrise di Puncak Gunung Prau, dan berangkat pukul 3 dini hari. Udara dataran tinggi Dieng memang selalu seperti ini, dingin-dingin pengen meluk! hahaha Tapi peluk sleepingbag aja yaaaa hehehe.

Entah, karena kecapean, atau emang males bangun 😅, kitapun kesiangan, rencana melakukan perjalanan pukul 3 pagi, lah ini jam 3 kita baru bangun dan siap-siap, jadilah kita telat semua hahaha. Maklum lah, efek capek hampir selalu dalam posisi duduk di mobil. Akhirnya kami melakukan perjalanan pukul 4 pagi. Oh iya! karena akan melanjutkan perjalanan ke Banjarnegara dan Jogjakarta, kami memutuskan untuk tektok aja, atau mendaki pulang pergi, karena mengejar waktu. Akhirnya metode Ultralight Hiking yang kami pilih agar lebih cepat dan tidak melelahkan.

Buat yang belum tau, apa sih Ultralight Hiking? banyak sekali yang menafsirkan definisi dari metode pendakian jenis ini, tapi dari banyaknya prespektif-prespektif itu semua mengerucut pada satu prinsip bahwa Ultralight Hiking adalah suatu metode, atau cara yang digunakan para pegiat pejalan alam bebas dengan membawa perlengkapan se-minim dan seringan mungkin. Eh tapi! gak sama sekali mengkesampingkan prinsip-prinsip keamanan yaaa, semua harus tetap prosedural. Ini bukan semata-mata mengurangi kuantitas barang bawaan, tapi lebih ke mempertimbangkan bawaan, dan memilih barang yang lebih simple tanpa mengurangi kualitas penggunaan. Atau begini saja, untuk lebih detailnya, gue akan nulis di tautan berikutnya tentang ultralight hiking versi gue. Sekarang kita lanjutkan perjalanan menuju puncak Prau.

Ditengah-tengah maraknya pendaki yang ingin terlihat gagah dengan carrier besarnya, kami malah memilih metode ultralight, sepertinya akan lebih nyaman, mengingat kita juga harus turun dan naik di hari yang sama, bahkan sebelum sore hari harus sudah kembali ke basecamp. Jalur Patak Banteng tampaknya adalah pilihan yang tepat. Dari 2 jalur lain yang pernah saya lewati (Jalur Dieng, dan Jalur Kalilembu) Jalur Patak Banteng ini adalah pilihan yang paling tepat untuk melakukan metode tektok+ultralight, mengingat jalurnya yang didominasi dengan tanjakan-tanjakan tajam, tapi tidak berputar seperti jalur-jalur lainnya, membuat jalur Patak Banteng menjadi jalan pintas paling cepat untuk sampai di Puncak Gunung Prau, dan dengan jalur yang terbilang berat ini, pantas lah kita menggunakan metode Ultralight. Okeeee kita mulai perjalanan!

Setengah jam perjalanan awal, kita masih akan melintasi rumah-rumah warga, perkebunan, dan jalan batu yang tertata rapih dan sedikit menanjak, dan akan menemukan simpang Pos 1.

Ikuti arahnya yaaa, karena harus belok dan menanjak.

Dari Pos 1, jalan akan lebih menanjak, melewati jalan setapak yang kiri kanannya adalah perkebunan warga, sesekali kita akan melintasi warung-warung penjual makanan dan minuman yang tampaknya akan sangat ramai jika hari libur atau weekend. Setelah melintas diantara warung-warung yang menanjak, kita akan menemukan Pos 2, waktu tempuh kurang lebih setengah jam.

Kesel gak sih liat signage nya dicoret- coret gini, sampe tulisan nama posnya gak kebaca huhu biadab kalian 😭

Setelah melewati Pos 2, kita akan memasuki hutan Gunung Prau yang asri dan sejuk, masih ada beberapa bonus track yang landai untuk sejenak menghela napas. Setelah kurang lebih 30 menit berjalan, kita sampai di Pos 3.

Tau gak kenapa Pos 3 ini dikasih nama Cacingan?

Itu dia sebabnya! Akar-akar pepohonan disekitar Pos 3 ini begitu mendominasi sampai-sampai menutupi jalur. Hati-hati yaaa kesandung, kalo hujan pasti jadi licin banget.

 Yuhuuuu~ Jalan semakin terjal bos! Duh kayanya bakal capek banget nih. eh tapi tapi, gak jadi capek deh, mana bisa capek kalo pemandangannya kaya gini??? 😍😍😍

Terasering khas di Dieng ini memang super cantik! Tapi si Rara ngapain sih! ngerusak pemandangan aja :p

Indahnya!!!!

Eh itu ada telaga apa yaa? bagus kayanya.

Puncaknya Jawa Tengah dari kejauhan, Gunung Slamet.

Tapi ditengah-tengah keindahan ini, ada penderitaan ini juga yang harus kita rasakan.

TAPI TAPI!!! dari sebelah kanan jalur, ada ini. CANTIK SEKALI!!!!

Aduh-aduh makin gak sabar sampai puncak! dari sisi ini aja udah cantik banget, gimana dari puncaknyaaaaaaa!! yuk semangat nanjak yaa! Setelah kurang lebih 45 menit sampai 1 jam mendaki, sampai lah kita di pos Pelawangan

Jalur mulai melandai, dan kita disambut oleh padang Savana yang luaassssssss~ 15 menit kita akhirnya sampai di puncak pandang! Gilaaaaaa Cerah banget ya Allah! indah sekaliiiii!!!!!! Ini Prau terbaik gue setelah 4 kali kesini!

Dibelakangnya juga berbaris rapih dan cantik Gugusan Gunung dari Merbabu, Merapi, Andong dan Lawu! INDAH!!!

Ini diambil pake lensa zoom, keren yaaaa!

Mbak qq pun gak mau ketinggalan eksis hehe

Tenda ku yang semi ultralight ini cukup fleksible untuk dibawa-bawa.

 Foto dari Drone kesayanganku

Nah kurang lebih, itu dia asiknya mendaki tektok Gunung Prau kemarin. Pokoknya sesuai rencana banget lah. Sekarang kita turun lagi yuk! harus ngejar waktu ke Jogja malam ini, ternyata turun lebih cepat, cuma satu setengah jamlah. Jam 1 siang kita sudah sampai basecamp lagi.

Gunung Prau ini luar biasa banget bagi gue. Posisinya gak terlalu jauh dari Jakarta, Kotanya sejuk dan asri banget! Gunungnya gak terlalu tinggi, dan pemandangannya GAK ADA DUANYA! gue seratus kali lagi kesini juga mau banget! hahahaha Nah sekarang tugas kita sama-sama ngejaga dong! ayolah, stop ngerusak alam please, kasian tau, ini kan indah banget, harus diwariskan sama generasi penerus. kalo kalian cuma mau ngerusak, gak usah deh naik gunung, buang sampah dan corat-coretnya dirumah sendiri aja yaaaa.

Jangan lupa yaa follow instagram gue untuk tau kegiatan dan foto-foto perjalanan gue, simple, tinggal klik gambar instagram dibawah ini 😀

Schode Ilham Written by:

dengan membaca semua tulisan ini, kalian telah menelanjangiku bulat-bulat.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *