Aku adalah pengerajin besi, pencipta rindu

Saat ini aku sedang merindukan saat-saat perkenalan pertama kita. Kalimat-kalimat itu, kalimat pertanyaan yang saling kita lemparkan untuk lebih mengenal.

waktu itu, lupa tepatnya tanggal berapa aku pertama kali melihatNya di lini masa, tapi yang jelas pertama kali melihat, aku langsung memfollow, tanpa meminta sedikitpun dirinya melakukan hal serupa. Memang pikirku, aku ini hanya mengidolakanNya, jadi tidak perlulah sampai meminta untuk berteman lebih jauh. Tapi beberapa hari berselang, ternyata dia mengikuti juga lini masa ku, entah apa yang ada di kepalanya saat itu, sampai saat inipun menjadi pertanyaan yang akan terus aku pelihara sebagai rasa penasaran besar.

Beberapa waktu kemudian, aku lebih memberanikan diri untuk memberikan komentar pada foto-foto yang Ia posting, tujuannya hanya untuk mengagumi, tak lebih. Setelah sesering itu memberikan komentar, entah apa lagi yang ada dikepalanya, sehingga ada satu waktu ia mengirimkan aku pesan langsung. Aku ingat betul, 23 april 2016 jam 15:00 tepat. Aku pun langsung membalas karena tidak mau sampai ia menunggu, tapi membalas dengan penuh keraguan karena takut salah tingkah hahaha. Semua berlangsung sangat cepat, sampai beberapa obrolan melalui pesan langsung itu, tak lama kita bertukar nomer telepon, dan tak lama juga kita saling mendengar suara satu sama lain.

Ini mungkin momen paling berbahagia ku sepanjang 2016, dan dimalam yang sama kita memutuskan bertemu. Semua terjadi begitu cepat. Malam minggu itu, setelah beberapa tahun aku tidak merasakan malam minggu bersama seseorang perempuan, aku merasakannya kembali, sangat spesial, karena dengan wanita yang ku idolakan.

Kedai kopi adalah tempat pertama kali kita akhirnya bisa memandang kedua bola mata berhadapan, dan dari kedua bola mata itu, aku merasakan ada dua buah bulan paling teduh pernah muncul.

Malam itu adalah malam paling awkward dengan beberapa hal tampaknya salah, seperti gerakan-gerakan dan kata-kata, yaa aku memang sangat gugup, maklum hal ini baru ku rasakan kembali setelah sekian. “Aku tuh suka banget liat lampu kota dari ketinggian” dia bilang. Dan tidak ada alasan bagi ku untuk tidak mewujudkan itu, malam ini.

Setelah selesai dari kedai kopi, segera aku mengajaknya ke Puncak Bogor. “Ini pertama kali aku ke Bogor loh!” katanya antusias, dan aku senang bukan kepalang ketika mendengar itu, walaupun aku tidak mengungkapkannya. Paling tidak aku bisa membuatnya bahagia malam ini. Dan entahlah, malam itu rasanya sangat cepat, bahkan, rasa-rasanya baru beberapa jam. Itulah, hal-hal yang menyenangkan kadang memang berlalu begitu cepat.

Setelah saat itu, hubungan kita biasa-biasa saja, layaknya teman, tidak ada yang berubah. Yaa karena sepertinya aku ingin begini saja, rasanya akan jauh berubah jika aku meminta lebih, dengan bisa sedekat ini, sudah lebih dari cukup, pikirku. Aku tidak akan pernah siap, jika suatu saat kita saling menjauh dan bermusuhan, itu yang paling aku hindari.

Tidak ada chating intensif diantara kami, semata-mata hanya ingin menjaga suasana, karena aku takut dia bosan, atau bahkan takut mengganggu waktunya. Akupun tidak pernah tau, cara ini ampuh atau tidak untuk menjaga hubungan kami. Tapi yasudah, jalani saja.

Pertemuan berikutnya terjadi 2 bulan setelahnya, 4 hari sebelum ulangtahunnya. Dia bilang ia butuh sekali suasana gunung. Aku pernah menceritakan sebuah bukit didaerah bogor yang ingin ku kunjungi, akhirnya kita pergi kesana.

Selalu sama, awkward, setiap kali bertemu dengannya. Dan kacaunya, aku telat cukup lama untuk menjemput, jadi aku memutuskan untuk mampir di sebuah toko bunga, yaa walaupun aku tidak langsung memberikannya, melainkan esok pagi, karena aku memang selalu payah ketika bertemu langsung dengannya 😂.

Kami sampai di Bogor tengah malam, dan langsung menuju ke lokasi, ternyata kita masih harus menunggu sampai pagi untuk bisa mulai mendaki, yaa lagi-lagi waktu begitu cepat saat bersamanya. Pendakian ini adalah Pendakian paling indah yang pernah ku lakukan, selain udara dan langit yang cerah, hanya kami berdua yang ada di puncak gunung. Sangat syahdu.

Setelah mendaki kami memutuskan untuk pergi ke air terjun disekitar Bogor. Kenangan-kenangan selama perjalan tidak akan terlupa, dari tidur di pom bensin, sampai harus mencari tambal ban di pelosok desa karena ban mobil yang pecah, oh tak lupa hujan-hujanan dan mampir dirumah warga desa selepas bermain di air terjun. Aku merindukan momen itu. Diantara sepasang mata dan lengan mu itu, Rindu membuncah di Kepala ku.

Tapi setelah pertemuan itu, kita tidak lagi bertemu, makin tidak ada obrolan-obrolan, hanya sesekali menyapa melalui lini masa, aku memang rindu, dan ingin sekali bertemu, tapi, memang lebih baik kalau rindu ini terus ku pelihara, dan menulis adalah satu-satunya pelarian terbaik, karena dari tulisan-tulisan ku, selalu tersirat tentang dia, walaupun semua itu tidak akan pernah terpuaskan oleh kata-kata. Ingantanku selalu dibongkar oleh lagu-lagu dan lampu kota dari atas bukit yang jadi kesukaannya.

Setelah hampir satu tahun, kami kembali dipertemukan, 20 mei 2017, di kota kesukaannya, Jogjakarta. Kebetulan, kami memiliki acara di kota yang sama, walaupun jarak yang tidak begitu dekat. Aku yang lebih di tengah kota, sementara dia di sekitar Sleman, dua jam dari pusat kota Jogja. Tapi, aku sama sekali tidak punya alasan untuk tidak bertemu dengannya. 3 hari kurang lebih kami bersama di Jogja, dia benar, Jogja memang istimewa. Aku, yang sering sekali berkunjung ke Jogja, tidak pernah merasakan Jogja yang sehangat ini, Jogja yang seistimewa di matanya. Akhirnya aku sadar, Jogja memang istimewa, seperti dia.

Jika ditanya, kenapa aku bisa seperti ini, akupun tidak pernah tau jawabannya. Dengan alasan yang banyak sekali, aku menyayanginya dengan sayang sekali. Mungkin begitu. Walaupun kita jarang sekali bertemu, tapi aku suka cara ini, kita sangat menghargai waktu tiap detiknya pertemuan yang begitu sulit, mencoba menghancurkan jarak agar selalu dekat, yaa walaupun dia sering kali marah ketika aku selalu saja memainkan handphone, itu hanya caraku membunuh rasa gugup.

Entah kapan kita akan bertemu kembali, Mungkin tahun depan, atau ditahun depannya lagi, tapi, aku sudah melipat senyum terakhirnya di saku, dan akan kubaca kembali nanti ketika kutersesat didalam setiap rindu. Senyum-senyum itu sudah terangkum, dan selalu ku uraikan dalam setiap lamunan, dan itu semua sama sekali tidak pernah membebani.

Setiap kali berpisah seharusnya ada lebih dari dua patah kata yang terbang dari mulutku di depannya. Namun degupku yang terlalu kencang selalu saja menghentikannya.

oh iya hari ini dia berulangtahun. Selamat ulangtahun yaaa! Apapun yang terbaik selalu menjadi harapanku untuk mu. yang terpenting, semoga kita selalu baik-baik saja, dan aku harap akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya. Yang terpenting dari hubungan ini adalah, aku hanya ingin dia bahagia setiap dekat denganku, dan tidak ingin menjadi hal yang membebani apalagi menjadi sumber kesedihannya. Sederhananya, aku ingin jatuh sebagai hujan kedalam kedua matamu, lalu diam. Bertahan hingga kamu tak mampu menjatuhkanku dikemudian.

Oh iya tenang saja, aku juga akan selalu jadi teman terbaik, yang inshallah akan selalu ada, lebih tepatnya akan selalu rindu hehe. Aku suka sekali, karena rinduku padamu ini layaknya seorang pengerajin besi, ia kerja kadang terlampau keras, tak kenal lelah, tapi dari situ, selalu tercipta rindu yang baru, yang lebih tajam dan kuat seperti pedang.

Hubungan dua orang manusia memang tidak akan pernah mudah, apalagi jika ada cinta didalamnya. Dan ini Caraku untuk membuatnya menjadi mudah, yaaa walaupun mungkin tidak semua orang sanggup untuk menjalankan ini.

Sekali lagi, selamat ulangtahun yaaa ☺️

Schode Ilham Written by:

dengan membaca semua tulisan ini, kalian telah menelanjangiku bulat-bulat.

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *