Kerinci, perjalanan panjang, menembus angan (part II, angan berbalas, kaki menapaki tanah tertinggi dengan langit sebagai alas)

KAGET! Gue bener-bener kaget ketika mendengar para penduduk berkomunikasi. Dari pedagang makanan, tukang ojek, tukang gorengan, sampai Petani, semua berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Eh sebentar! ini gue di Kerinci atau di Semeru sih??? hahahahaha. Nah, ternyata memang penduduk sekitar kaki gunung Kerinci ini adalah warga keturunan suku Jawa, gue gak sempat nanya gimana sejarahnya, tapi menurut hemat gue, ini masih karena program transmigrasi yang dicanangkan oleh Presiden Soeharto jaman orde baru dulu, makanya, banyak tersebar masyarakat Jawa di Pulau Sumatera. Poin pentingnya adalah, masyarakat pribumi atau lokal Jambi, tidak pernah ada konflik atau seteru dengan masyarakat pendatang. Itu baru namanya INDONESIA! πŸ‘πŸ½πŸ‘πŸ½πŸ‘πŸ½

Selfie dulu ah di Tugu Macan yang fenomenal ini. oh iya konon, ini adalah Macan yang paling jinak disini. eh gimana sih, orang ini patung πŸ˜…

Sesegera mungkin setelah diantar Pak Lihun sampai di dekat pintu rimba, kami melanjutkan perjalan. Jantung berdegup begitu cepatnya, sempat gak percaya kalo gue akan menaklukan Gunug Api tertinggi se-Asia Tenggara. Apa bisa, De? lo kan asma! mana gak pake porter dan didalam carrier bawaan satu minggu di Lampung kemarin. Yaudah berdoa aja yaaa, pasti bisa kok, Gunung-gunung sebelumnya kan juga gak pake porter hehe. 

Sebelum memulai perjalanan, kita bertiga saling menguatkan dan berdoa bersama, berharap semua di lancarkan, Puncak memang menjadi target kami, tapi sampai di bawah dan pulang dengan selamat adalah tujuan yang paling utama, berdoa MULAI!! Selamat Datang Para Pendaki Gunung Kerinci!

Dari sini, 5 menit kemudian kalian akan disambut oleh pintu rimba, hutan belantara Gunung Kerinci, yang menurut gue penuh misteri, sudah menanti di depan mata.

Ini dia Pintu Rimba. Entahlah, setelah masuk kedalam kawasan ini, jantung semakin berdegup cepat, gak tau kenapa, antara sangat antusias ingin segera menjelajahi Belantara Kerinci, atau ketakutan karena cerita-cerita tentang Kerinci dan misterinya. Tapi? bukan Schode banget lah kalo gak lanjut! πŸ˜„

Dari pintu rimba ini kami benar-benar disambut oleh pepohonan yang rapat, bahkan sinar mataharipun tidak dapat menembus rimbunnya dedaunan. Dan percayalah, ini adalah Gunung dengan hutan paling berisik yang pernah gue dengar. Bukan! bukan berisik karena suara manusia, tapi suara Primata. Luarbiasa, terdengar seperti kami berada dikerajaan kera! sayangnya mereka tak tertangkap kamera, karena posisinya mungkin terlalu jauh dari jalur. Ini benar-benar berisik! tapi gue benar-benar takjub dengarnya, Hutan Kerinci ini memang benar-benar liar! Entahlah, apa yang membuat primata-primata ini berteriak, oh iya, mungkin saja sedang musim kawin hehehe

Jalur dari Pintu Rimba menuju Pos I terbilang cukup landai, dan ternyata gak memakan waktu lama, 20 menit kami sudah sampai di pos pertama, namanya Pos batu panjang / bangku panjang.kami berhenti sejenak untuk sekedar membasuh tenggorokan dan menikmati suasana alam dengan masih ditemani dengan sorak sorai primata yang seperti menyambut kami. INI HARMONI ALAM! INI LEBIH INDAH DARI MUSIK JAZZ DARI NEGERI MANAPUN! kataku dengan sedikit berteriak! hehehe πŸ˜…

Kami bertiga melanjutkan perjalanan, entah akan bertemu apa lagi didepan nanti. Jalurnya tidak selayaknya jalur umum yang biasa ku lewati ketika mendaki, sangat alami, berkali-kali kami mengalah pada pepohonan untuk sesekali merunduk dan memanjat pepohonan yang tumbuh melintas ditengah jalur. 

Dari pos I menuju pos II jalur masih terbilang landai dan cukup dekat, setelah 25 menit berjalan akhirnya kita sampai di pos II atau disebut juga dengan Batu Lumut.     Dipos Batu Lumut ini barulah kami bertemu dengan pendaki-pendaki lainnya yang juga ingin menggapai puncak Kerinci, sempat bertegur sapa dan berbincang seputar perkenalan yang sebenarnya hanya formalitas hehehe yaa biasalah, obrolan khas pendaki yang baru ketemu di jalur. Asiknya mereka ramai-ramai dan ditemani oleh porter. Oh ngomong-ngomong, salah satu porter bilang, kalo pos II ini adalah jalur lalu-lalangnya Harimau Sumatra yang semakin hari semakin jarang ditemukan. Aduh ngeri juga yaaa, yaudah lanjut aja yuk,  dari pada tiba-tiba papasan sama om Harimau πŸ˜‚

Perjalanan berlanjut, nah jalan ke Pos III ini mulai agak menanjak, dan tampaknya akan lebih panjang. Jalur mulai menyempit, hanya setapak, sepertinya kalau hujan deras, jalur ini akan jadi sungai kecil hahaha dan benar saja, beberapa kali titik air jatuh dari langit, gerimis mulai turun, kamipun mempercepat langkah kaki. Yaa, kami bertiga memang tidak pernah berpisah sedikitpun, selalu menempel karena sudah komitmen kami dari awal untuk selalu bersama dalam setiap kondisi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah 45 menit berjalan, akhirnya kita sampai di Pos III, di pos III ini ada sebuah pondok yang bisa kamu singgahi sesaat untuk beristirahat. Tak lama setelah kami sampai, rombongan sebelumnya yang kita temukan di pos II akhirnya menyusul dan beristirahat bersama di Pos III.Gerimis nampaknya mulai deras. Akhirnya kami semua memutuskan untuk berteduh dibawah pondok ini, sembari makan siang bersama dan membuat kopi. Obrolanpun mulai cair antara kami para pendaki yang berbeda domisili. Ternyata mereka semua datang dari Jakarta, sama kaya gue, yang beda cuma Anto dan Abi yang orang Lampung. Percakapan semakin cair ketika Anto selalu membahas instagram dan menobatkan dirinya sendiri sebagai seorang selebgram, dan kita semua hanya tertawa, dibalut dengan segelas kopi dan rintik hujan. Sangat syahdu.

Hujan tidak menunjukan tanda-tanda akan reda, kamipun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Ponco. Sekarang regu kami menjadi semakin besar, seiring dengan rasa takut yang memudar karena banyak teman yang akan mendampingi selama perjalanan.

Track menuju Shelter 1 berubah menjadi lebih lembab karena guyuran hujan, dan jalur tidak memanjakan kami seperti sebelumnya, sekarang lebih menanjak, bahkan jadi lebih sempitTrack menanjak ditambah licin karena guyuran hujan menjadi tantangan luar biasa yang harus ditaklukan menuju shelter 1, tanjakan demi tanjakan tanpa bonus menjadi sajian utama yang ditawarkan oleh Kerinci, sesekali kami harus lagi-lagi merunduk untuk mengalah pada rimbunnya tumbuhan di tengah jalur, yaa kami harus mengalah, karena kami tamu disini 😁Sempit, setapak, basah, dan lebat. Rasa-rasanya sensasi jalur seperti ini hanya bisa di dapatkan disini, di Kerinci. Jalan dengan posisi tegap saja rasanya sudah sangat melelahkan, apalagi acap kali harus merunduk, mengalah pada kerimbunan tumbuhan yang melingkar rendah melintasi jalur. Tapi ini indah! 

Akhirnya kami sampai di ketinggian 2.512 meter diatas permukaan laut, ketinggian dari Shelter 1, dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam. Kami beristirahat sebentar sambil menunggu teman-teman lain. Tapi karena Hujan yang tak kunjung usai, membuat berhenti terlalu lama bukan menjadi pilihan yang tepat, rasa dingin menyeruak menembus ponco, Jaket, bahkan kaos paling dalam kami. Oke, kita lanjut jalan saja, supaya lebih hangat dan mengejar shelter 2 sebelum gelap, karena sepertinya kami akan bermalam di shelter 2.

Track dari shelter 1 ke shelter 2 ternyata lebih jahat, lebih menanjak, ditambah jalur tanah yang basah yang beberapa titiknya berubah menjadi sedikit berlumpur. Beberapa titik jalur bahkan hanya bisa dilalui oleh satu kaki bergantian saking sempitnya, ini lebih mirip gorong-gorong atau parit. Mungkin kalau hujan deras, jalur ini pasti jadi sungai kecilSesempit ini guysssss, gue geleng-geleng aja lah hahaha

Akar-akar pepohonan semaunya berada dijalur, kalo kamu gak focus, yaaa sudah pasti kesandung dan cidera, makanya tetap focus yaaa.

Setelah 3 jam melelahkan dengan terus menanjak, kami berhenti ditanjakan terakhir sebelum Shelter 2. Pakde, porter rombongan Jakarta, meminta Bule (yang juga porter) untuk mengecek keadaan Shelter 2, karena kondisi Shelter 2 yang sangat sempit dan tidak dapat menampung banyak tenda, mengingat jika di total, tenda rombongan kami berjumlah 5 tenda. Karena shelter 2 sudah ada beberapa tenda, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di shelter 2 bayangan, lumayan lah ada sedikit tanah lapang yang bisa untuk didirikan tenda secara berdekatan.Ini dia tenda kami yang sederhana, kecil tapi menampung kami bertiga, yaaa walaupun penuh dengan konflik didalamnya karena posisi tidur yang tidak nyaman, kalo mau nyaman di hotel kali yaaa πŸ˜‚

Tidak ada tanda bahwa hujan akan berhenti, bahkan sampai tengah malam. Kami sudah bertekad untuk bangun dini hari sekitar pukul setengah 3 dengan harapan hujan sudah berhenti di jam itu dan kami bisa summit. Tapi ternyata hujan juga tidak kadung reda, kamipun sepakat untuk menunda perjalanan summit pagi itu dan melanjutkan istirahat.

Pukul 5:30 pagi hujan berangsur-angsur mereda, dan jam 7 pagi matahari keluar dari tengah-tengah awan mendung! CERAH! apakah ini pertanda kita harus jalan? dan setelah menyelesaikan sarapan, kami bersepakat untuk lanjut perjalan menuju puncak Kerinci, jam 8.30,  kami memutuskan untuk memulai perjalanan. Shelter 2 yang tidak terlalu lapang, dan liat jalur kecil keatas setapak itu? nah itulah jalur menuju shelter 3, yang menurut pakde berkali-kali lebih berat dibanding jalur shelter 1 ke shelter 2 πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ™πŸΌ

semangat guyssssss, gorong-gorong ini sudah menanti manja untuk dilintasi hahaha

Harus ganti-gantian sama yang turun yaa, maklum, jalurnya cuma segini hehehe

Lagi dan lagi, harus merunduk bahkan merangkak untuk mengalah sama sang tuan rumah. 

Preman pasar juga pasti nunduk lah kalo lewat jalur kaya gini, gue aja yang udah sampe alpen tetap nunduk tuh, gak kuat bos! hahahaha

mangat bang ode! panjat terus! panjat pohon aja yaaa, abis panjat hatihnya susah πŸ˜‚

Pakde yang selalu menuntun jalan kami, selalu setia di belakang memastikan semua aman 😘

Kadang harus melompat diantara dua lubang dalam, ini tanjakan terakhir sebelum sampai di Shelter 3

Dan akhirnya kita sampai juga di shelter 3, setelah 3 jam lebih berjalan dengan penuh cobaan πŸ˜‚Shelter 3 ini cukup luas untuk mendirikan tenda, tapi yaa itu, terbuka banget! pasti dingin kalo malam brrrrrr

Belum selesai yaaa, dari shelter 3 masih harus terus naik, sudah tidak ada vegetasi, hanya ada pasir sepanjang mata memandang~parodi sebentar gak apa-apalah yaa, biar gak tegang hehe

itu tuh jalurnya tuh, duh ketutup kabut lagi huhu kacau balau

patok terakhir sebelum sampai ke Tugu Yudha

Sayangnya, tanjakan terakhir sebelum Tugu Yudha, gerimis turun sangat cepat, beberapa kali suara petir bersambaran. Gue, Abi dan Anto sempat memutuskan untuk turun dan mengurungkan niat menggapai puncak, padahal puncak sudah didepan mata. Tapi Pakde bilang, “gak apa-apa yuk, sampai Tugu Yudha saja, setelah itu, jika cuaca tidak mendukung, baru kita turun”. Pakde meyakinkan kami, akhirnya kami melanjutkan perjalan, karena Pakde memang paling mengerti dengan keadaan Kerinci, sudah berpuluh-puluh tahun jadi porter, yasudah kami nurut hehe

Setelah sampai Tugu Yudha, gerimis sempat reda, dan kabut sempat menipis. Kami optimis, tinggal satu tanjakan itu dan kami akan sampai di Puncak Indrapura! Dengan langkah yang sudah gontai, kami melanjutkan perjalanan, beberapa langkah menuju puncak, hujan kembali turun, bahkan petir lebih sering bersuara, gue pun agak panik, kami sangat dekat dengan lagit, tanpa perlindungan apapun kita bisa saja tersambar petir, kami melanjutkan perjalanan yang sudah sangat dekat. Dan akhirnya……Saya sampai di Puncak Gunung Api Aktif Tertinggi di Indonesia. MAHA BESAR ALLAH DENGAN SEGALA KEMURAHAN HATINYA. AKU SAMPAI DI TITIK INI! Rasa syukur tak henti-hentinya keluar dari mulut ini, alhamdulillah, walaupun tidak bisa lama-lama di puncak, mungkin hanya 3 menit diatas sana, suasana begitu mencekam. Kabut menutupi semua pandangan, suara petir makin terdengar menggelegar, ditambah hanya kami bertiga diatas sini, semua sudah turun lebih dulu. Makin mengerikan lagi adalah ketika muncul seperti suara aliran listrik dari gadget yang kita bawa termasuk kamera, bunyi seperti trrrrrrrtttt, sangat terdengar, bahkan besi penyangga bendera dan plat penanda tulisan puncak juga berbunyi serupa, mungkin suara magnet, yang membuat kami memutuskan untuk turun secepatnya, karena petir rasanya sangat dekat.

Beberapa hari setelah turun Kerinci, gue mendegar kabar bahwa ada beberapa teman pendaki yang tewas tersambar petir di Gunung Prau. Mengingatkan gue detik-detik di Puncak Kerinci yang mungkin sudah sangat mendekatkan gue dengan kematian, Allah memang Maha Baik. Sampai saat ini gue masih hidup dengan cerita yang selalu berbeda setiap perjalanannya, Aku berjanji akan terus memperlihatkan kecantikan ciptaan Mu, dan akan terus selalu bersyukur bagaimanapun keadaanya.

Oh iya! gue ingin ngucapin terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dua sahabat, duo Lampung yang gila! yang telah mewujudkan salah satu mimpi besar gue, dengan segala kerendahan hati, terimakasih brooo! Perjalanan ini tak akan pernah terlupakan, teruntuk dua sahabat ku, Anto dan Abi

Juga untuk sahabat baru yang dipertemukan oleh Kerinci, aku merindukan saat kita semua bersama, tertawa bersama, melempar senyum dan semangat, bertukar makanan dari balik tenda, dan semua keceriaan itu, aku menantikan kita bersama lagi, entah dibelahan bumi yang mana. Jujur saja, aku rindu 😒☺️

rindu ku pada semua orang digambar ini, kurang pakde yang langsung naik lagi mengantar tamu lainnya

team susu kental manis 😜: Bli Anom, Mas Adit, Pak Djoni dan Pak Hendro

Tim Jakarta: Kak Tika, Kak Henock, Kak Helen, Bang Wahyu, Ariel, Cema dan Zamilah

Lampung: Abi dan Anto

Kayo Aro: si Bule Strong! 

Schode Ilham Written by:

dengan membaca semua tulisan ini, kalian telah menelanjangiku bulat-bulat.

2 Comments

  1. Hendro
    June 8, 2017
    Reply

    Wuuiihh keren banget mas bro. Baca ini jd terkenang lg perjalanan menggapai puncak Kerinci. Top dah.

    • June 8, 2017
      Reply

      terimakasih sudah membaca bro, semoga suatu waktu bisa kembali lagi ketempat ini yaa hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *