Jalur Pendakian Gunung Sindoro via Alang-alang Sewu, Jalur Baru Tantangan Baru


Rutinitas perkantoran membuat gue kembali harus memaksimalkan waktu weekend yang begitu sempit. Sampai akhirnya, weekend 18-19 maret kemarinpun dengan maksimal gue mabfaatkan untuk flashpacker sebisa-bisanya. Jadi, mau kemana kita  weekend ini?

Semesta memang selalu mendukung. Tiba-tiba menjelang weekend, salah seorang teman mengabari bahwa ada beberapa teman Instagram yang akan melakukan pendakian ke Gunung Sindoro, asiknya lagi, pendakian ini akan dilakukan melalui jalur yang baru dibuka 2 minggu belakangan. Nama jalurnya Alang-alang Sewu, tidak terlalu jauh dari basecamp kledung. Dan singkat cerita, jumat malam gue memutuskan ikut dalam kelompok pendakian Gunung Sindoro.

Perjalanan dimulai pukul 20.00 malam dari Terminal Depok, dan sampai Terminal Mendolo Wonosobo juga jam 8 pagi, berarti total perjalanan adalah 12 jam, lumayan lah pegelnya hehhee. Oh iya, harga tiket bus ke Wonosobo Rp.100.000, yaa tapi tergantung bus nya juga sih 😁

Sebelum lanjut perjalanan ke basecamp, kita santai-santai dulu menikmati suasana Wonosobo dan sarapan-sarapan mandjaaahhh 😂

Setelah puas menikmati suasana dan sarapan di terminal Mendolo, kami memutuskan berangkat ke basecamp dengan menyewa mobil Pick-up dengan biaya perorang 15 Ribu saja sampai depan basecamp. Yang kaya gini nih yang bikin seru, naik mobil bak, sambil menghirup udara segar desa dan penggunungan, SURGA TUMPE-TUMPE 😂.

Dalam perjalanan, kita sempat mampir-mampir ke minimarket dan pasar-pasar terdekat untuk melengkapi logistik selama pendakian, nah ini salah satu keuntungan ketika kita pergi dalam kelompok, kita bisa patungan untuk beli makanan bersama, jadi gak boros-boros banget lah yaaa hehehe

Sampai lah kita di basecamp dengan disambut oleh hujan, yaaahhhh begini lah resiko naik gunung di awal tahun, cuaca kurang bersahabat huhuhu.

Ternyata di basecamp sudah menunggu dua teman juga yang akan ikut dalam rombongan, ada Abi dari Lampung, dan Cahyo dari Jogja, wah makin rame aja nih, asssiiikkkkkk.

Beginilah kurang lebih penampakan basecampnya:

Oke kita mulai re-packing carrier dan bersiap untuk mendaki walaupun kondisi hujan, yang penting selalu sedia ponco!

Harga SIMAKSI di basecamp Alang-alang Sewu cuma 5 ribu rupiah gengs! MURAH MERIAH. Yuk kita jalan sekarang! Kita telanjangi jalur baru ini bersama-sama!

Basecamp Menuju Pos 1

Kita memulai pendakian sekitar pukul setengah 4 sore. Kondisi jalur dari basecamp ke pos 1 didominasi dengan persawahan warga, duh yang begini ini nih yang gak bisa ditemukan di ibu kota, cuci mata banget! Ditambah guyuran hujan membuat suasana makin syahdu.

10 menit awal kita masih berjalan diantara pemukiman warga, ini juga gue suka banget, ketika bisa saling melempar senyum dan menyapa warga setempat satu sama lain, Negeri saya memang ramah. Oke kita lanjut perjalanan, 20 menit adalah waktu yang kita habiskan untuk melewati jalur yang kiri-kanannya diapit oleh persawahan warga, jalurnya berupa bebatuan yang disusun seperti jalanan pada umumnya agar kendaraan untuk mengangkut hasil panen mampu menjangkau para petani.

Nah akhrinya kita sampai dipintu hutan, hutan yang dijadikan juga sebagai kebun kopi oleh warga, ternyata pos satu belum juga terlihat, kita sempat kebingungan menemukan jalur pendakian karena semak-semak belukar sangat lebat menutupi jalur. Tapi ternayata ada beberapa signage atau penanda di pohon-pohon, yaa walaupun kecil, jadi kita harus lebih teliti yaa 😁, dari pintu hutan/kebun kopi ke pos 1 membutuhkan waktu 10 menit, ternayata lumayan dekat. Total perjalanan dari Basecamp sampai ke Pos 1 kurang lebih 40 menit.

Pos 1 Menuju Pos 2

Mulai di dominasi oleh hutan, dengan jalur yang terus menanjak dan masih dibasuh hujan yang jatuh dari daun-daun pepohonan. Jalur ini masih benar-benar sepi, jadi kita gak bertemu dengan banyak pendaki, yang naik maupun yang turun. Selama mendaki, kita hanya bertemu dengan satu group pendaki yang naik, dan satu group pendaki yang turun.

Ditengah jalur juga kadang tertutup oleh pepohonan yang tumbang yang kadang membuat kita harus menunduk, atau melangkahinya dengan susah payah, ini juga menambah bumbu-bumbu pendakian.

Ditengah pejalanan, kurang lebih setelah 30 menit berjalan, kita sampai di persimpangan mata air, tapi ini belum sampai pos dua yaaaa. Beruntung di jalur ini masih ada mata airnya dan kamipun memutuskan untuk berhenti sejenak, beberapa teman turun untuk mengisi botol-botol kosong ke sumber mata air, sisanya mempersiapkan penerangan karena hari mulai gelap menjelang maghrib.

Oke lanjut perjalan, dari persimpangan mata air kita agak sedikit melipir ke kiri jalur untuk terus mengarah ke pos 2, tanjakan mulai sedikit terjal, akhirnya di kegelapan terlihat lah pos 2 melambai-lambai. Dari mata air sampai ke pos 2 kurang lebih 15 menit. Total perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 kurang lebih 35 menit.

Pos 2 Menuju Pos 3

Wah wah, keliatannya kok tanjakan makin terjal yaaa? mana gak ada bonus lagi hahahaha. Semua makin berat mungkin juga karena efek hujan, dingin, barang bawaan sedikit basah, ditambah jalur yang licin. Oke ini bukan bahan untuk mengeluh! Yuk tetap semangat dan berhenti sesekali menikmati cahaya lampu kota di bawah sana, Oh iya menuju pos 3, jalur mulai terbuka, karena disinilah mulai diketahui kenapa nama jalurnya Alang-alang Sewu, yaa karena dari pos 2 ke pos 3 didominasi oleh alang-alang, jadi kita bisa melihat kota dari atas, cantik sekali, rasanya hidup sangat indaaaahhhhhhh, apalagi ditambah irisan apel, penghangat suasana sambil bercerita. KEHIDUPAN YANG HQQ 😂😂😂

Menit-menit terakhir menuju Pos Tiga, jalur semakin berat, sangat menanjak dan sempit sekali. Tapi akhrinya perjuangan hari ini selesai!!! kurang lebih 50 menit kita menempuh perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3, dengan beberapa kali beristirahat menikmati suasana. Oke yuk kita cari lahan yang ciamik untuk mendirikan tenda.

BADAI BADAI!!!!

Menjelang tengah malam, angin bertiup sangat kencang! Gue berpikir postif kalo ini tuh cuma angin lewat aja, makanya gue memutuskan tidur, karena kita memang ada rencana summit ke puncak dini hari. Ternyata badai terus berlanjut, bahkan 3 tenda di kelompok kami ambruk sekitar pukul setengah 3 pagi. Wahh kacau. Ini badai terparah sih selama gue naik gunung, tapi untungnya tenda gue aman sih.

Oke akhirnya kita saling bantu untuk memperbaiki tenda tenda yang roboh. Badai tidak kunjung usai, akhirnya kita urungkan niat untuk muncak dini hari. Angin kencang berangsur-angsur menurun sekitar pukul 6 pagi. Betul banget tuh lagu yang bilang badaiiiii pasti berlalllluuuuuu 😄, karena setelah badai semalaman, pos 3 ini cerah kebangetannnn!! Pemandangannya jangan di tanya! Sumbing terlihat begitu jelas dan megah didepan mata, Merbabu dan Merapi juga Lawu terlihat dengan jelas di kejauhan, samudra awan juga ada dibawah kami. Masyallah ini kebangetan deh indahnya! yuk kita foto-foto hehe

Hari minggu ku sangat indah, penat semua hilang. Dan gak berasa sudah jam 11 siang, duh bis terakhir ke Jakarta dari terminal Mendolo adanya jam 5 sore nih, harus buru-buru turun gunung supaya gak ditinggal bus, karena senin harus kerja lagi 😭 (mengingat perjalan bus 12 jam, berarti sampai Jakarta senin pagi juga jam 5 pagi huhu turun gunung langsung kerja)

Beberapa teman yang seninnya masih bisa libur memutuskan untuk lanjut ke puncak siang-siang bolong, gosong-gosong deh lo hahaha, dan meurut kabar dari yang muncak, dari pos 3 ke puncak itu mengabiskan waktu kurang lebih 3 jam. Wah lumayan juga yaaa. Gue cuma di kasih liat dokumentasinya 😢, tapi gak apa-apa juga sih, dari pos 3 juga udah keren baget kok pemandangannya.

Oke singkat cerita, akhirnya kita sampai di terminal tepat waktu dan gak ditinggal bis ke Jakarta. Oh iya dalam perjalanan, satu teman pendakian yang adalah perempuan satu-satunya yaitu nana alias raisa mengalami cidera di kaki, jadi gue membantu membawakan carriernya sampai bawah sebagai seorang gantelmen hahaha padahal ujung-ujungnya encok juga punggung 😅 Tapi poin nya adalah kita harus saling care dan perduli apalagi sama pendaki perempuan, oke? Okeeeeeee jadi segini dulu yaa ceritanya. Kapan-kapan kita cerita lagi deh yaa hehe

Terimakasih sudah membaca. Gue doain yang rajin baca masuk surga! amin.

Beberapa dokumentasi teman-teman di puncak sindoro:

70% foto diambil dari lensa kamera om @gedeleo makasih yaa om fotografer pribadi hahahaha

Jangan lupa yaa follow instagram gue untuk tau kegiatan dan foto-foto perjalanan gue, simple, tinggal klik gambar instagram dibawah ini 😀

 

Schode Ilham Written by:

dengan membaca semua tulisan ini, kalian telah menelanjangiku bulat-bulat.

2 Comments

  1. Imrong.id
    July 20, 2017
    Reply

    keren om, berarti di sepanjang jalur aman sumber mata air ya om?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *